← Cerita
Diary·Thailand·23 Agustus 2025·4 menit baca

🇹🇭 Pagi di Thailand di Tepi Laut: Dari Matahari Terbit hingga Pemandian Air Panas

Pagi di Tepi Pantai

Salam dari pesisir Thailand.

Ini bulan November, musim ketika pantai timur konon diguyur hujan monsun. Namun hari ini langit cerah, dan aku berdiri di hadapan pantai yang begitu memesona hingga terasa seperti berkah.

Ombak bergulung lembut, cakrawala terbentang tanpa batas, dan di sampingku duduk seekor anjing yang diam-diam berjaga. Ia tidak menggonggong, tidak bergerak, hanya duduk di sana seolah ikut berbagi momen ini denganku. Aku tak bisa menahan pikiran: andai semua anjing di dunia setenang ini, hidup di jalan pasti terasa jauh lebih mudah.

Lalu matahari mulai terbit.

Warna-warni fajar melukis langit dengan gradasi jingga dan emas, tumpah gemilang ke seluruh permukaan laut. Aku berbisik pada diri sendiri—ini luar biasa, pemandangan yang tak pernah kubayangkan akan kusaksikan di negeri asing sebelum memulai perjalanan ini.

Dan di momen itu, aku merasa bersyukur pada diriku di masa lalu—diri yang memutuskan untuk mengikuti rasa ingin tahu, meninggalkan zona nyaman, dan berangkat menyusuri jalan yang tak diketahui ini.

Pagi yang Santai dan Sarapan yang Mengenyangkan

Udara pagi membawa ketenangan yang santai. Pakaianku akhirnya kering, dan tanpa terburu-buru, aku bisa mengemas barang-barangku dengan tenang. Rasanya seperti sebuah hadiah—memulai hari tanpa terburu-buru.

Aku berangkat mencari sarapan. Dari luar, kota ini tampak sepi, hampir terlalu pedesaan untuk berharap banyak. Tapi begitu aku mengayuh masuk, warung-warung mulai bermunculan—menyajikan mi, hidangan nasi, dan makanan favorit setempat.

Ingin mendapat energi untuk perjalanan di depan, aku memilih hidangan nasi. Datang dalam keadaan panas mengepul, harum, dan mengenyangkan. Harganya? Hanya 40 baht, sekitar 181 yen. Murah, tapi bahan bakar yang kuat untuk tubuhku. Dengan setiap suapan, aku bisa merasakan kekuatan kembali, mempersiapkanku untuk 80 kilometer yang menanti di depan.

Tantangan di Jalan dan Anjing-Anjing

Cuacanya sempurna—cerah tapi tidak menyengat, berangin tapi tidak keras. Ini jenis hari yang diimpikan para pesepeda. Namun, aku tahu betul untuk tidak bersantai sepenuhnya. Di jalan-jalan seperti ini, bahaya tidak selalu datang dari lalu lintas—seringkali datang dari anjing.

Baru sekitar satu jam mengayuh, ketakutanku menjadi kenyataan. Aku sudah dikejar oleh sekitar sepuluh ekor anjing. Polanya sudah familiar: kuil-kuil di pinggir jalan, gerombolan anjing menunggu dalam siaga.

Ketika satu anjing menggonggong, yang lain ikut bergabung, berlari dengan intensitas yang terasa seolah mereka ingin mencabik-cabikku. Kali ini, aku berhasil mempercepat laju sepeda sebelum mereka sepenuhnya bereaksi, lolos tanpa konfrontasi. Tapi suara gonggongan di belakangku tetap membuat bulu kudukku merinding. Pertemuan seperti ini tidak pernah terasa lebih mudah.

Pertemuan Tak Terduga: Kuda dan Sapi

Setelah melewati apa yang kusebut bercanda sebagai "zona anjing," sesuatu yang mengejutkan muncul di depan. Bukan sapi, yang sering kulihat di sepanjang jalan, melainkan kuda. Berkeliaran bebas, berdiri tegak di bawah matahari.

Ini pertama kalinya dalam perjalananku di Thailand aku bertemu kuda, dan kelangkaannya membuat momen itu terasa istimewa. Sebuah pengingat bahwa bahkan pemandangan yang sudah familiar pun bisa menyimpan kejutan tak terduga.

Tak lama kemudian, seolah dunia ingin menyeimbangkan persamaan, aku akhirnya melihat sapi—tapi bukan sedang merumput di padang. Sebaliknya, mereka muncul di bak belakang sebuah truk, sedang diangkut ke suatu tempat. Bertemu mereka dengan cara seperti itu, di tempat seperti ini pula, terasa hampir ajaib dengan caranya sendiri yang aneh.

Tempat Istirahat yang Aneh dan Pemandian Air Panas

Tak lama setelah itu, aku berhenti mencari toilet. Butuh sedikit berkeliling dan bertanya-tanya sebelum seorang staf mengantarku ke sana. Yang kutemukan cukup tidak biasa—sebuah toilet yang terletak di ruang terbuka yang luas, tidak seperti yang pernah kulihat sebelumnya. Entah kenapa, rasanya menyegarkan hanya dengan menggunakannya.

Tidak jauh dari sana terletak salah satu tujuanku hari ini: pemandian air panas. Biaya masuknya hanya 20 baht—murah tak terkira. Rasa penasaranku tumbuh saat aku berjalan menuju kolam-kolam, dikelilingi alam, dengan papan peringatan bahwa monyet juga bisa muncul di sini.

Akhirnya, aku menyelupkan diri.

Kehangatan air langsung membungkus tubuhku. Sempurna—tidak terlalu panas, sekitar 38 hingga 39 derajat. Tubuhku meleleh dalam relaksasi, setiap otot yang lelah pun tenang.

"Pemandian air panas memang yang terbaik, ya?" kata seorang sesama pemandi di sampingku, seorang pria ceria berjenggot tebal. Energinya menular. Kami tertawa, berfoto bersama, dan ia menyarankan agar aku menjelajah lebih jauh untuk melihat monyet.

Aku tidak melihat monyet, tapi malah menemukan sebuah gua batu kapur kecil. Pemandangannya membuatku terpana—formasi yang terukir selama ribuan, mungkin jutaan tahun. Membayangkan waktu yang dibutuhkan untuk menciptakan ruang ini membuatku merasa kecil. Sekali lagi, aku merasa bersyukur—pada alam, pada kesempatan, pada orang-orang asing yang mengantarku ke sana.

Malam Bersama Tuan Rumah yang Baik Hati

Berenergi kembali berkat pemandian air panas, aku melanjutkan perjalanan. Setelah dua jam lagi, aku tiba di tempat peristirahatanku untuk malam itu—sebuah guesthouse di pedalaman pedesaan, dikelola oleh sepasang suami istri lansia.

Mereka hanya berbicara bahasa Thailand, tapi entah bagaimana aku memahami semua yang ingin mereka sampaikan. Mata mereka, gerak-gerik mereka, usaha yang mereka curahkan untuk berkomunikasi membawa makna yang lebih dalam daripada kata-kata.

Aku mencuci pakaianku, membiarkannya kering di bawah matahari yang mulai redup. Ketenangan yang hening menyelimutiku.

Di penghujung hari, bukan hanya jarak yang telah kutempuh, atau tempat-tempat yang telah kulihat. Melainkan kebaikan yang telah kuterima—dari orang-orang asing, dari alam, bahkan dari hewan—yang membuatku dipenuhi rasa syukur.

Memories of the Road — Thailand

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Thailand

Bagikan