Hari untuk Berhenti Sejenak

11 Desember, tepat di jantung Kuala Lumpur. Berbeda dengan kemarin, saat aku menjelajah dan berkeliling kota, hari ini adalah hari istirahat penuh. Laptopku masih dalam perbaikan, yang berarti aku belum bisa melanjutkan perjalanan ke kota berikutnya, Seremban, seperti rencana awalku. Rasa frustrasi karena tak bisa maju itu ada, tetapi aku memilih mendedikasikan hari ini untuk satu hal: menulis bukuku.
Pihak hotel dengan baik hati mengizinkanku menggunakan ruang bersama mereka, dan kebaikan itu membuat perbedaan besar. Aku merasa bersyukur karena memiliki ruang untuk bekerja tidak selalu terjamin saat bepergian.
Mencari Ruang yang Tepat untuk Ide
Saat aku perlu fokus secara mendalam, terkadang membantu untuk menempatkan diri di ruangan tertutup dan tenang tanpa gangguan. Tapi ketika soal memunculkan ide, aku merasa bekerja lebih baik di ruang yang dimasuki cahaya alami, tempat jendela-jendela membuka perasaan lapang pada ruangan itu. Sebuah tempat yang terasa cukup luas untuk bernapas.
Aku sangat menghormati orang-orang yang bisa berkonsentrasi di situasi apa pun. Bagiku, lingkungan masih memainkan peran yang terlalu besar. Aku menyadari bahwa aku belum bisa mempertahankan tingkat fokus yang sama dalam setiap keadaan.
Ketika berada di jalan, lingkungan tidak pernah tetap. Kadang aku menginap di hotel dengan Wi-Fi sempurna dan kamar yang tenang. Di lain waktu, aku berada di pegunungan tanpa sinyal, atau di dalam tenda sementara angin dan hujan mengaum di luar. Dan setelah bersepeda lebih dari 100 kilometer, bahkan jika Wi-Fi tersedia, tubuhku sudah begitu lelah hingga tak ada lagi energi tersisa untuk bekerja serius.
Belajar dari Konsistensi
Itulah sebabnya aku mengagumi orang-orang yang telah membangun kebiasaan menyelesaikan sesuatu di mana pun mereka berada. Ini bukan lagi soal menciptakan "lingkungan yang sempurna". Ini soal membangun kebiasaan fokus, praktik konsistensi itu sendiri. Itulah sesuatu yang masih kurang pada diriku.
Sambil menyusun dan menulis lebih banyak bagian bukuku, aku terus merenungkan hal ini. Kelemahan terbesarku bukanlah ketiadaan ruang kerja yang baik, melainkan ketiadaan kebiasaan kerja yang lebih kuat.
Kemajuan pada Buku
Kabar baiknya, kerangka bukunya sudah selesai. Sekarang tinggal mengisi isinya, menulis sedikit demi sedikit. Aku telah berjanji pada diriku sendiri bahwa pada 2025, aku akan menyelesaikan setidaknya satu buku utuh. Pikiran itulah yang terus mendorongku maju, bahkan di hari-hari yang tenang dan diam seperti ini.
