← Cerita
Diary·Malaysia·23 Agustus 2025·2 menit baca

🇲🇾 Hari yang Tenang di George Town: Kerja, Hujan, dan Persahabatan

Hari untuk Tinggal di George Town

Pada 22 November, salam dari George Town. Aku memutuskan untuk menginap satu malam lagi di sini, memilih untuk beristirahat dan fokus menyelesaikan tugas-tugas yang perlu kukerjakan. Di Tido Hostel, ruang komunitas di lantai lima buka hingga pukul 22.00—sungguh berkah bagi pelancong yang juga butuh waktu untuk bekerja.

Fokus dan Urusan Praktis

Aku menghabiskan pagi untuk menyelesaikan pekerjaan dan bersiap mengajukan visa Indonesia. Di suatu titik, aku sempat mendengar rumor bahwa wisatawan Jepang mungkin dibebaskan dari persyaratan visa. Sebagian diriku ingin mempercayainya, tetapi tentu saja, tidak ada tanda-tanda bahwa itu benar. Karena Indonesia adalah tujuan yang benar-benar ingin kukunjungi, mengajukan visa lebih awal terasa penting.

Santapan Sederhana di Sebelah

Menjelang pukul 15.00, aku sadar telah begitu fokus hingga belum makan. Aku melangkah keluar dan bersyukur menemukan bahwa tepat di sebelah hostel, ada sebuah kedai kari kecil yang dikelola oleh orang-orang Bangladesh.

Tempat makan kaki lima seperti ini tak tertandingi—makanan lezat, suasana sederhana, dan harga terjangkau. Hanya dengan 5 ringgit (sekitar 173 yen), aku bisa makan sampai kenyang. Rasanya seperti sebuah hadiah.

Saat aku makan, langit yang tadinya biru cerah dengan cepat berubah gelap, dan hujan deras pun turun. Pada saat itu, aku bersyukur telah memilih untuk tetap di dalam ruangan hari ini. Jika aku pergi bersepeda atau berkeliling terlalu jauh, aku pasti akan terjebak hujan deras dan terpaksa kembali lebih awal.

Belajar dari Hujan

Musim ini di Malaysia, sama seperti di Thailand, adalah musim hujan. Ini bukan waktu terbaik untuk perjalanan bersepeda, tetapi ada hal yang bisa dipelajari darinya. Dengan memperhatikan awan, aku mulai bisa memperkirakan kapan hujan akan turun. Rasanya seperti mendapatkan keterampilan kecil yang tidak biasa—meski bukan sesuatu yang benar-benar kubutuhkan, aku tersenyum memikirkannya.

Percakapan yang Melintasi Batas Negara

Kembali di hostel, aku menghabiskan sekitar satu jam mengobrol dengan seorang pelancong asal Australia yang kutemui pada hari pertamaku di sini. Percakapan kami mengalir dengan mudah dan hangat, dan pada akhirnya, kami berjanji untuk bertemu lagi di Sydney.

Inilah yang diberikan oleh perjalanan: satu demi satu, orang-orang baru masuk ke dalam hidupmu. Teman-teman mulai bermunculan di seluruh dunia, dan dengan setiap hubungan baru, cara pandangku terhadap dunia semakin meluas. Ini adalah hadiah yang kubawa dengan rasa syukur dan semangat.

Malam ini, saat aku bersiap tidur, aku merasakan antisipasi terhadap apa yang akan datang selanjutnya. Dunia terasa terbentang luas.

Di atas tempat tidurku duduk sebuah boneka kecil yang pernah diberikan oleh seorang gadis kecil selama perjalananku. Bepergian sendirian, aku terkadang mendapati diriku melekatkan perasaan pada benda-benda sederhana dan tak bernyawa seperti boneka ini. Ia menemaniku dengan caranya yang tenang.

Dengan pikiran itu, aku menutup hari ini. Besok adalah satu langkah lagi dalam perjalanan ini. Selamat malam.

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Bagikan