Pagi Hujan, Ritme yang Tenang
Aku bangun lagi di Ulladulla, di rumah hangat tuan rumahku, Wombat. Di luar, hujan turun deras. Di jalan, cuaca seperti ini biasanya membuatku gelisah. Namun di bawah atap, hujan yang sama terasa aman, bahkan menenangkan. Aku membuka laptop dan bekerja dengan tenang. Perjalanan bukan hanya soal terus bergerak maju—tetapi juga soal meluangkan waktu untuk berhenti sejenak dan merapikan segala sesuatu. Hari-hari hujan sering menjadi kesempatan langka untuk menyesuaikan diri, merenung, dan bersiap.
Ocean & Earth, Pusat Dunia Selancar

Menjelang siang, Wombat mengajakku mengunjungi "Ocean & Earth." Dia menyebutnya sebagai "kantor," jadi aku membayangkan tempat yang sederhana. Namun yang berdiri di hadapanku justru toko selancar raksasa, tempat yang hanya bisa ada di kota tempat budaya selancar begitu mengakar. Di antara deretan papan selancar, beberapa dengan harga mendekati 100.000 dolar, aku bisa merasakan skala dan keseriusan dunia ini.
Dia juga menunjukkan gudang di bagian belakang. Ukuran dan stoknya sungguh luar biasa. Aku pernah mendengar orang berkata bahwa "selancar adalah gaya hidup," tetapi setelah menyaksikannya sendiri, aku akhirnya memahami betapa dalam makna kata-kata itu.
Sepotong Kue Ulang Tahun yang Tak Terduga
Saat kami menyapa staf di bagian belakang, ternyata salah satu dari mereka sedang merayakan ulang tahun hari itu juga. Yang mengejutkan, mereka juga membagikan kue itu kepadaku. Ditawari sepotong kue sebagai orang asing sepenuhnya terasa mengharukan sekaligus membuatku rendah hati. Manisnya kue itu terasa berlipat ganda karena dibagikan bersama. Kebetulan-kebetulan kecil seperti inilah yang memperkaya perjalanan seorang pengembara.
Energi Seorang Anak dan Berenang di Sore Hari
Menjelang sore, putri kecil Wombat pulang ke rumah. Sejujurnya, aku bukan tipe orang yang begitu disukai anak-anak. Di Jepang, bahkan ada yang menganggapku terlihat menakutkan. Tapi dia berbeda—liar, energik, penuh rasa ingin tahu. Dia berlari-lari keliling rumah dengan energi tanpa batas, menarikku masuk ke dalam dunianya.
Lalu datang ajakannya yang berani: "Ayo ke kolam renang!" Awalnya ragu, aku pun setuju. Tak lama kemudian aku sudah berenang di sampingnya, tawanya bergema di atas air. Untuk sesaat, aku merasa menjadi anak kecil lagi. Aku tak pernah membayangkan bahwa bermain dengan seorang anak dalam perjalanan bisa melunakkan hatiku sedemikian rupa.
Makan Malam dan Rasa Syukur

Malam itu, Wombat mengajakku ke sebuah restoran bergaya dengan suasana seperti bar. Ini adalah malam kedua berturut-turut aku menikmati makanan hangat dan lezat. Rasa syukur memenuhi diriku, melebihi makanan itu sendiri.
Besok, aku akan berangkat kembali. Tujuan berikutnya adalah Bomaderry, melewati Nowra. Jalan baru lainnya, babak baru lainnya menanti di depan.
