← Cerita
Diary·Australia·25 Agustus 2025·2 menit baca

🇦🇺 Hari yang Tenang di Jalan: Bunga, Jalur Sepeda, dan Keramahan Hangat di Lake Entrance

Aroma Tenang di Pagi Hari

Sedikit lewat pukul 6 pagi, aku membuka mata di sebuah kamar yang remang-remang. Di luar, langit terlukis dalam warna biru pucat, dan napasku samar-samar terlihat di udara yang dingin. Aku bangun lebih awal karena tuan rumahku akan segera berangkat, dan aku ingin mengucapkan terima kasih sebelum mereka pergi.

Saat aku melangkah ke dapur, aroma roti panggang memenuhi udara. Istri tuan rumahku menyambutku dengan senyum hangat: “Makan apa pun yang kamu suka.” Di atas meja tersaji apel, sereal, dan roti—hadiah sederhana di pagi hari yang melembutkan hatiku.

Menata Ulang Taman yang Ikut Berkelana

Setelah sarapan, aku beralih ke trailer-ku. Bunga-bunga yang aku bawa sering bergeser saat aku bersepeda, jadi hari ini aku memutuskan untuk mengubah total tatanannya. Setelah beberapa kali coba-coba, akhirnya aku berhasil membentuknya menjadi susunan paling “mirip taman” yang pernah aku buat. Aku tak bisa menahan diri untuk mengepalkan tangan kecil tanda puas dalam diam.

Dengan semua barang sudah dikemas dan udara sejuk memenuhi paru-paruku, aku berterima kasih sekali lagi kepada keluarga itu, melambai kepada anak-anak mereka, dan berangkat menyusuri jalan.

Mencari Lebih Banyak Bunga di Bunnings

Tujuan pertamaku adalah Bunnings. Masih ada ruang tersisa di trailer, dan aku ingin menambahkan lebih banyak bunga. Bagian taman di sana adalah ledakan warna, cukup untuk membuatku lupa bahwa aku sedang di tengah perjalanan panjang. Aku memilih bibit-bibit kecil yang masih berkuncup. Kuncup yang belum mekar itu terasa seperti cerminan perjalanan ini sendiri—penuh potensi, belum terungkap.

Ketenangan di Rail Trail

Awalnya, aku mengikuti jalan utama, tetapi setelah sekitar lima kilometer, jalur sepeda menghilang dan mobil-mobil melaju dengan kecepatan yang mengintimidasi. Tepat ketika ketegangan mulai naik, aku melihat papan penunjuk arah Rail Trail dan langsung berbelok tanpa ragu.

Jalurnya tidak beraspal, tetapi satu-satunya suara yang terdengar hanyalah kicauan burung dan derit lembut ban di atas tanah. Rasanya seperti aku sedang ditarik perlahan semakin dalam ke hutan.

Melintasi Lahan Pertanian Menuju Lake Entrance

Sekitar 15 kilometer kemudian, aku kembali ke jalan utama dan berhenti di pinggir jalan untuk makan siang. Aku memasak semangkuk ramen pedas, tetapi rasa pedasnya dan repotnya membersihkan sisa masakan membuatku yakin untuk memilih makanan yang lebih sederhana lain kali.

Pada siang hari, rute membentang lurus melewati lahan pertanian. Sapi-sapi berdiri tenang, mengawasiku lewat, sementara angin menderu di telingaku. Menjelang malam, aku tiba di Lake Entrance. Kota pelabuhan itu memiliki suasana yang lembut dan santai, dan senyum orang-orang yang aku lewati melonggarkan ketegangan di dadaku.

Kemewahan Hari yang Biasa

Tuan rumahku lewat Warmshowers sudah memberitahuku bahwa aku bisa menginap dua malam, dan saat aku tiba, aku langsung disambut dengan: “Silakan, mandi air hangat dulu.” Setelah dinginnya perjalanan, kata-kata itu saja sudah cukup membawa kelegaan.

Makan malam berupa nasi kari, rempah-rempahnya yang hangat perlahan mencairkan lelahnya hari itu.

Berbaring di tempat tidur setelahnya, aku berpikir: mungkin bukan peristiwa-peristiwa dramatis, melainkan hari-hari biasa seperti inilah yang menjadi inti sebenarnya dari perjalanan. Orang-orang yang baik, jam-jam yang tenang, dan bunga yang perlahan mekar—lapis demi lapis, momen-momen inilah yang membuat perjalanan ini tak terlupakan.

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan