← Cerita
Diary·Indonesia·24 Agustus 2025·2 menit baca

🇮🇩 Mendaki di Tengah Hujan Menuju Mojokerto dan Kebaikan yang Kutemukan di Sepanjang Jalan

Persiapan Pagi

30 Januari, di Mojokerto. Aku bangun pagi-pagi untuk mengunggah beberapa video yang kurekam dengan GoPro sehari sebelumnya. Setelah menyelesaikan pekerjaan kecil itu, aku bersiap untuk berangkat. Rute hari ini mencakup pendakian gunung, dan meskipun jarak totalnya hanya sekitar 40 kilometer, aku punya firasat ini akan lebih berat daripada kelihatannya.

Entah kenapa, aku terus membayangkan tidak akan tiba sampai sekitar pukul 4 sore, jadi aku memutuskan untuk berangkat lebih awal dari biasanya. Sebelum turun ke jalan, aku berhenti untuk sarapan.

Bakso, seperti biasa. Duduk di sana, menyantap sup bakso sambil menyaksikan kambing-kambing merumput bebas di dekatnya, aku merasakan secuil kebersamaan.

Pendakian Pertama

Tak lama setelah berangkat, jalan pegunungan mulai terlihat. Dalam jarak 15 kilometer, aku sudah basah kuyup oleh keringat, kaki terus mendorong tanpa henti menaiki tanjakan curam. Kaki gunung yang jauh membayang di depan, mengingatkanku betapa jauh jarak yang masih harus kutempuh.

Setelah beberapa saat lagi mendaki, hujan turun tiba-tiba dan deras. Mencari tempat berteduh, aku menemukan sebuah rumah yang terlihat aman dan diundang untuk beristirahat di sana. Aku tinggal di sana sekitar satu jam.

Yang mengejutkanku adalah tidak semua orang di sana adalah keluarga. Banyak di antaranya tetangga yang sekadar berkumpul bersama. Cara orang Indonesia hidup—saling mendukung dan berbagi dengan orang-orang di sekitar mereka—meninggalkan kesan mendalam bagiku. Sebelum pergi, kami berfoto bersama, mengabadikan momen kehangatan dan kebersamaan.

Hujan, Makanan, dan Percakapan

Kembali ke jalan, tanjakan terus berlanjut tanpa henti. Di sepanjang jalan, aku memperhatikan banyak kedai bergaya losmen dan rumah makan kecil. Tempat-tempat itu terlihat seperti dibangun khusus untuk para pelancong beristirahat.

Hujan kembali turun, lebih deras dari sebelumnya. Aku berhenti lagi dan memesan Mie Goreng. Duduk diam, aku menunggu badai berlalu.

Kemudian, sepasang kekasih yang duduk di dekatku mulai mengajakku bicara. Mereka bercerita bahwa mereka bekerja keras karena mungkin punya kesempatan untuk belajar di Jepang lewat program beasiswa. Semangat dan tekad mereka menular, dan mendengarkan harapan mereka juga memberiku dorongan.

Ketika hujan akhirnya mereda, aku kembali naik sepeda. Kilometer terakhir sangat berat—tanjakan curam yang butuh waktu satu jam penuh untuk kutaklukkan.

Tiba di Tempat Berkemah

Akhirnya, aku tiba di tempat berkemahku. Aku baru tahu bahwa harganya berubah tergantung apakah itu hari kerja atau akhir pekan. Setelah membayar, aku mendirikan tenda.

Angin dan hujan masih berisik, dan aku segera menyadari bahwa aku satu-satunya yang berkemah di sana. Seluruh tempat itu terasa seperti milikku sendiri.

Setelah menurunkan bawaanku, aku berjalan menuju air terjun terdekat. Ini adalah Air Terjun Dlundung, tempat wisata yang populer. Beberapa orang masuk langsung ke dalam air, tapi dengan hujan dan pakaianku yang basah kuyup, aku memutuskan menyimpan petualangan itu untuk lain hari.

Meski begitu, berdiri di depan air terjun setelah pendakian sepanjang itu, aku merasa bersyukur—atas kekuatan untuk terus bergerak, atas kebaikan orang-orang asing, dan atas keindahan tenang yang menanti di ujung hari bersepeda yang berat.

Memories of the Road — Indonesia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Indonesia

Bagikan