← Cerita
Diary·Australia·25 Agustus 2025·2 menit baca

🇦🇺 Pagi Tanpa Menunda Alarm dan Perjalanan Panjang ke Yarram

Pagi Tanpa Menunda Alarm

Pukul enam pagi, aku membuka mata di kamar yang masih remang-remang. Aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak tertidur lagi hari ini. Biasanya, aku bisa dengan mudah terlelap kembali ke dalam "tidur kedua, bahkan tidur kedua puluh tiga," tapi di jalan, kesiangan bisa berakibat fatal bagi ritme hari itu.

Aku menuju ruang makan tempat tuan rumahku telah menyiapkan sarapan: oatmeal, roti panggang, dan raspberry segar yang baru dipetik dari kebun, disajikan bersama yogurt. Perpaduan sempurna antara rasa asam dan manisnya terasa seperti berkah dari tanah ini.

Sepucuk Surat dan Seni Jepang

Sebelum berangkat, aku memberikan tuan rumahku sepucuk surat perpisahan. Di dalamnya, aku juga menyertakan catatan tentang gulungan lukisan Kisah Genji (Tale of Genji), yang telah kami bicarakan sehari sebelumnya. Senyum bahagia tuan rumahku ketika menerimanya meninggalkan kesan mendalam bagiku.

Kemudian, ia mengajakku ke sebuah ruangan tempat replika "Shokunin-zukushi-e" (Lukisan Berbagai Pengrajin) dipajang. Matanya berbinar saat ia bercerita dengan penuh semangat tentang kecintaannya pada seni Jepang, warna-warnanya, dan gaya khasnya. Mendengarkannya, aku merasakan sedikit penyesalan. Aku berharap memiliki lebih banyak pengetahuan untuk kubagikan saat itu. Sebagai orang Jepang, seharusnya aku bisa menjelaskan budayaku sendiri dengan lebih baik. Dan karena itu, aku kembali menyadari betapa aku perlu meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisku—bukan hanya untuk bepergian, tapi juga untuk membagikan hal-hal yang benar-benar penting.

Jalur yang Seakan Tak Berujung

Tujuanku hari itu adalah Yarram, sekitar 50 kilometer jauhnya. Rutenya hampir seluruhnya melalui jalur sepeda, bebas dari lalu lintas kendaraan, yang membuat perjalanan terasa tenang dan aman.

Di sepanjang jalan, aku bertemu lagi dengan seorang pesepeda yang pernah kutemui beberapa hari sebelumnya, dan kemudian berhenti untuk mengobrol dengan pesepeda lain yang datang dari arah berlawanan. Pertemuan-pertemuan kecil yang tak terduga ini memberiku energi tambahan.

Pada titik 20 kilometer, aku berhenti untuk makan siang. Tuan rumahku telah membekaliku onigiri ala Jepang. Meski sudah dingin, rasanya tetap lezat, mengisi tubuhku dengan kekuatan yang stabil untuk perjalanan selanjutnya.

Memutuskan Berhenti di Yarram

Pukul 2 siang, aku tiba di Yarram setelah berjam-jam mengayuh sepanjang jalur yang lurus. Aku sempat ragu apakah akan melanjutkan ke kota berikutnya, tapi ramalan cuaca memperingatkan akan turun hujan lebat keesokan harinya. Memaksakan diri lebih jauh hari itu tidak akan banyak berbeda hasilnya.

Jadi aku memutuskan untuk berhenti di sini malam itu. Di pusat kota, aku menemukan sebuah gazebo beratap berbentuk segi enam dan memilihnya sebagai tempat berkemah. Satu-satunya kekurangannya adalah lampu langit-langit yang terang, yang sepertinya akan menyala sepanjang malam.

Meski begitu, aku merasa bersyukur. Memiliki atap di atas kepala untuk melindungi diri dari badai yang akan datang sudah lebih dari cukup. Aku berbaring lebih awal, menyiapkan tubuh dan jiwaku untuk hari penuh hujan yang akan datang.

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan