Terbangun oleh Suara Bebek dan Ayam
Pukul 6 pagi, aku terbangun oleh suara bebek dan ayam di kebun. Udara di luar terasa sejuk dan segar, menjernihkan pikiranku dengan setiap tarikan napas dalam. Puffy, sang anjing, berlari keluar menyambutku, dan aku bermain dengannya sebentar sebelum menenangkan pikiran dengan meditasi singkat. Dengan jiwa yang tenang, aku menyelesaikan beberapa tugas sebelum berangkat untuk hari itu.
Sehari di Komunitas Pertanian
Menjelang pukul 9 pagi, hostku, Owen, berkata, “Aku ingin menunjukkan suatu tempat,” dan mengantarku ke sebuah komunitas pertanian kecil. Para sukarelawan berkumpul untuk merawat pohon buah dan membantu berbagai pekerjaan.
Kami memulai dengan panen—mandarin, lemon, dan buah lemonade. Aku belajar cara membedakan buah yang sudah matang, dan tak lama kami masing-masing memiliki keranjang berisi hampir lima puluh buah. Selanjutnya adalah memangkas cabang-cabang tebal untuk dijadikan kompos. Karena aku sudah lama tertarik pada pengomposan selama perjalananku, aku dengan saksama mencatat perbandingan dan kombinasi bahan-bahannya. Pekerjaannya sederhana, tapi ritme yang stabil dari menggunakan tanganku membawa kedamaian.
Saat istirahat, selai dan kue buatan rumah dihidangkan. Aromanya dan rasanya terasa seperti kenyamanan itu sendiri. Yang paling mengejutkanku adalah banyak orang di sana baru pertama kali bertemu, namun percakapan dan senyuman mengalir begitu alami. Kehangatan tempat ini terasa nyata.
Wawancara untuk Majalah Lokal
Belakangan hari itu, aku diwawancarai oleh sebuah majalah lokal. Mereka bertanya tentang perjalananku, alasan di balik trailerku, dan tujuan-tujuanku. Ini adalah wawancara ketigaku semacam ini, namun setiap kali terasa segar, seolah seseorang dengan lembut mengangkat cermin ke hatiku. Ini memberiku kesempatan lain untuk merenungkan dari mana aku memulai dan mengapa aku terus melangkah.
Bersepeda di Tengah Hujan Menuju Toora

Berkat seseorang yang kutemui di peternakan, aku sudah memiliki tempat menginap yang diatur di Toora. Langit menjadi gelap, dan hujan dingin mulai turun saat aku bersepeda selama sekitar satu jam. Saat tiba, aku basah kuyup, tapi hostku yang baru menyambutku dengan hangat, membawakan roti dan secangkir kopi Australian roast yang harum.
Dia pernah mengajar bahasa Inggris di China dan fasih berbahasa Mandarin. Karena aku juga bisa sedikit berbahasa itu, percakapan kami berubah menjadi campuran bahasa Jepang, Inggris, dan Mandarin—perpaduan yang tidak biasa namun entah bagaimana mengalir dengan alami.
Angin di Dermaga dan Kisah tentang Sakit
Malam itu, kami bertiga membawa anjing itu jalan-jalan di sepanjang pantai. Angin berhembus kencang melintasi dermaga, dan garis cakrawala antara langit dan laut seakan melebur menjadi satu. Sambil berjalan, dia bercerita bahwa hanya dua minggu sebelumnya, dia hampir meninggal karena penyakit serius. Kini, melihatnya berjalan dengan kuat di samping kami rasanya sulit dipercaya. Pengalaman itu membuatnya menjadikan jalan kaki setiap hari sebagai kebiasaan. Mendengarkan ceritanya, aku diingatkan untuk lebih memperhatikan kesehatanku sendiri, bahkan saat dalam perjalanan.
Makan Hangat dan Kemewahan Mandi Air Panas
Kembali ke rumah, hidangan berupa kacang dengan bumbu kari dan sup telah menanti. Aromanya mengingatkanku pada Asia Tenggara, dan bersama nasi, hidangan itu sangat memuaskan.
Setelah makan malam, aku mencuci piring lalu memanjakan diri dengan mandi air panas yang lama. Mencuci rambut dengan sampo, membilas kelelahan hari itu—semuanya terasa luar biasa. Hal-hal yang seharusnya biasa saja menjadi kemewahan di jalan. Tubuh dan jiwaku terasa segar kembali, dan aku pun tertidur lelap dengan penuh rasa syukur.
