← Cerita
Diary·Australia·25 Agustus 2025·3 menit baca

🇦🇺 Hari Penuh Tanjakan dan Perpisahan: Bersepeda Menuju Orbost

Pagi Perpisahan dan Museum Sepeda

Pada pukul 7 pagi, aku terbangun oleh udara pagi yang sejuk. Hari ini, istri tuan rumahku akan berangkat lebih awal, jadi sebelum dia keluar, aku sempat mengucapkan “terima kasih” singkat namun tulus dari hati. Momen-momen perpisahan seperti ini telah menjadi ritual dalam perjalananku—singkat namun diwarnai kesedihan yang tenang.

Sementara suaminya bersiap mengajak anjing mereka jalan-jalan, aku memeriksa daya baterai ponselku. Dia kemudian mengajakku ke gudang penyimpanan, yang ternyata seperti sebuah museum sepeda. Dindingnya dipenuhi gir, perkakas, dan suku cadang, masing-masing membawa kisahnya sendiri. Yang biasanya pendiam dan tertutup, dia menjadi bersemangat saat berbicara soal sepeda. Wajahnya bersinar dengan senyum kekanak-kanakan, dan suaranya penuh antusiasme yang tulus.

Kami menghabiskan lebih dari setengah jam membicarakan perkakas, trik-trik di jalan, dan cara memecahkan masalah selama perjalanan. Berbagi gairahnya mengingatkanku bahwa sepeda bukan sekadar mesin—mereka adalah wadah bagi kisah dan kepribadian.

Menyiapkan Taman di Atas Roda

Ketika dia kembali dari jalan-jalannya, kami berjabat tangan erat, sebuah pertukaran rasa hormat dan syukur tanpa kata. Kemudian aku beralih ke persiapan akhir untuk trailer. Agar kotak-kotak bunga tidak terguncang lepas di jalan yang tidak rata, aku mengikatnya erat dengan lakban. Dengan setiap penyesuaian kecil, “taman berjalan” itu semakin mengambil bentuk yang lebih kokoh dan siap untuk perjalanan.

Saat aku selesai mengemas semuanya, jam sudah melewati pukul 10 pagi. Meski begitu, tidak ada alasan untuk terburu-buru. Tujuanku hari ini adalah Orbost, sejauh 70 kilometer. Dengan menarik napas dalam-dalam, aku mulai mengayuh pedal.

Tanjakan Tanpa Henti

Hampir seketika, jalan melemparkanku ke dalam serangkaian tanjakan curam. Kelegaan turunan hanya berlangsung beberapa detik sebelum tanjakan berikutnya dimulai. Kakiku terasa terbakar, dan beban trailer menekan berat di setiap kayuhan. Ini mengingatkanku pada naik turun tanpa akhir di Nullarbor Plain. Namun berbeda dari saat itu, angin hari ini tenang—sebuah berkah kecil yang membuat perjuangan ini lebih tertahankan.

Menjelang tengah hari, aku baru menempuh separuh jarak. Langit mulai berubah warna seiring senja yang mendekat. Anehnya, seiring cahaya berubah, tubuhku pun seolah menemukan ritme baru. Kakiku terasa lebih ringan, dan aku memasuki fokus yang tenang di mana satu-satunya hal yang penting adalah putaran pedal yang stabil. Akhirnya, kota Orbost muncul di hadapanku.

Mencari Tempat Berkemah

Dengan tujuh puluh kilometer di belakangku, tubuhku terasa berat karena lelah. Meski begitu, aku terus bersepeda melewati kota itu, mencari tempat yang aman untuk tidur. Ladang-ladang terbentang luas dan terbuka, tanpa apa pun yang bisa melindungiku dari pandangan orang. Sedikit kegelisahan mulai merayap, tapi intuisiku mendorongku untuk terus maju.

Lima belas menit kemudian, aku menemukannya: sebuah area terbuka kecil yang tersembunyi di balik gerombolan pohon. Kelegaan membanjiri diriku. Di sini, aku bisa beristirahat tanpa rasa khawatir. Aku mendirikan tenda dan menyiapkan makan malam sederhana berupa ikan kalengan dan oatmeal. Sesederhana apa pun, makanan itu mengisi perutku yang kosong, dan itu sudah cukup.

Naik Turun yang Menanti Esok

Saat malam turun, aku mempelajari peta diiringi suara mobil-mobil di kejauhan dan paduan suara serangga yang tak henti. Rute besok akan membawa elevasi tiga kali lipat dari hari ini—enam puluh kilometer tanjakan dan turunan yang terus-menerus. Di balik bukit-bukit itu terletak perbatasan dengan New South Wales, dan bersamanya, janji akan pemandangan dan pertemuan baru.

Sambil memejamkan mata, aku masih bisa merasakan kayuhan hari ini di otot-ototku, sebuah ritme samar yang bergema di dalam diriku. Perlahan, ritme itu menuntunku masuk ke dalam tidur, membawaku menuju tantangan dan kejutan hari esok.

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan