Pilihan Pagi dan Tanjakan Pertama

Pukul 7 pagi, aku terbangun oleh udara pagi yang sejuk dan mulai bersiap untuk berangkat pukul 8. Persediaan airku tinggal 250ml. Aku ragu—apakah harus meminumnya atau menggunakannya untuk merebus mi sebagai sarapan? Akhirnya aku membaginya: setengah untuk memasak, setengah lagi kusimpan di botol. Setelah membuat keputusan kecil namun penting ini, aku pun bergegas berkemas.
Tanjakan pertama hari itu memakan waktu sekitar sepuluh menit, kakiku bekerja keras melawan kemiringan jalan. Di puncak, angin dingin menyambutku, dan langit yang terbentang luas membersihkan pikiranku.
Perjumpaan di Bermagui
Tiba di Bermagui, aku pertama-tama singgah di toko perkakas Mitre10, tempat aku membeli baut untuk memperbaiki trailerku. Saran dari orang asing kemarin telah membawaku selangkah lebih maju dalam perjalanan ini.
Selanjutnya, aku berhenti di sebuah toko roti bernama Honorbread. Seorang pria di luar menyapaku, dan saat kami mengobrol, ia dengan murah hati menawarkan roti dan long black coffee. Roti hangat berisi jamur itu terasa meresap ke setiap bagian tubuhku.
Sebelum pergi, ia mengejutkanku dengan berkata, "Besok aku akan membawa perahu keluar. Kalau waktunya pas, mau ikut?" Ajakannya membuatku penasaran—pemandangan baru apa lagi yang mungkin masih menanti?
Di dalam toko roti, seorang staf menyerahkan sekantong penuh roti kepadaku. Memegangnya, aku merasakan kelegaan yang tak terduga. Di jalan, roti lebih dari sekadar makanan—ia adalah rasa aman, penyambung hidup.
Hadiah-Hadiah Tak Terduga

Kemudian, aku bertemu seorang pesepeda wanita dan berbincang singkat dengannya. Tak lama setelah itu, orang lain menghampiriku dan berkata, "Aku mendengar tentangmu dari seorang teman." Mereka menawarkan botol dan ban dalam cadangan, satu lagi kebaikan kecil yang akan membawaku lebih jauh.
Pria yang tadi kuajak bicara kemudian mengundangku ke pertaniannya. Dari ladangnya yang terawat baik, ia memberiku tanah organik dan benih untuk kubawa. Tetangga dari taman kanak-kanak di dekatnya juga singgah untuk mengobrol. Kunjungan yang kukira hanya akan berlangsung sepuluh menit berubah menjadi tiga jam yang penuh kemurahan hati dan kebersamaan.
Nyaris Celaka dan Sambutan Sunyi Narooma

Aku akhirnya berangkat pukul 1:30 siang, menuju perbukitan. Setelah tanjakan tersulit, aku mengayuh memasuki cahaya keemasan senja. Pada turunan kedua, aku mengalami momen berbahaya. Sebuah lubang tiba-tiba muncul di jalan. Saat aku mengerem dan membanting setir, banku tergelincir di atas kerikil lepas, setang berguncang keras, dan sebuah mobil melintas hanya berjarak satu meter dariku. Aku lolos dengan selisih yang sangat tipis. Jantungku berdebar kencang, dan aku mengingatkan diriku bahwa sedikit saja kelalaian bisa mengakhiri segalanya.
Ketika aku tiba di Narooma, malam mulai turun. Tuan rumah yang seharusnya kutumpangi sedang tidak ada di rumah, tapi sebuah pesan dan makanan telah disiapkan menungguku. Bahkan di rumah yang kosong, aku merasa diselimuti ketenangan yang menenteramkan.
