Perpisahan Pagi di Tasik

Pada 12 Januari, aku bangun di rumah seorang tuan rumah Warmshowers di Tasik. Aku diberi kamar pribadi dan kebebasan untuk menggunakannya dengan nyaman. Anjing mereka menggonggong keras semalaman, dan aku merasa sedikit was-was harus bertemu dengannya lagi di pagi hari, tapi ternyata semua baik-baik saja.
Meski sudah sakit kepala sejak kemarin, tuan rumahku menyambutku ke rumah mereka. Kebaikan kecil itu memberiku istirahat yang kubutuhkan. Aku berpamitan dengan rasa syukur sebelum berangkat menuju Kebumen.
Cuaca hari itu kembali bersahabat. Sambil bersepeda, aku menyadari sesuatu: meski aku tak begitu memperhatikannya di Jakarta, menjelajahi Indonesia membuatku melihat betapa kayanya negeri ini akan alam.
Jalanan, Kafe, dan Kejutan Sehari-hari

Aku hanya punya sisa sekitar 100.000 rupiah—kurang dari 1.000 yen. Jadi aku singgah ke bank untuk menarik uang tunai. Kotanya dipenuhi kafe, banyak dengan harga terjangkau. Jumbo, sebuah jaringan yang sering kulihat, menjual minuman seharga 2.500 rupiah saja—sekitar 24 yen.
Bukan hanya kafe, tapi minimarket pun menawarkan kejutan-kejutan menyenangkan. Salah satu teh berkarbonasi begitu menyegarkan hingga aku dengan yakin bisa merekomendasikannya kepada siapa pun yang berkunjung ke Indonesia.
Tiba-tiba, hujan deras turun. Tapi di Asia Tenggara, tempat berteduh ada di mana-mana—atap-atap kecil dan sudut-sudut beratap membuat hujan mendadak lebih mudah dihadapi. Saat hujan reda, aku melanjutkan perjalanan.
Lapar, aku memesan Bakso favoritku seperti biasa. Sup bakso ini telah menjadi salah satu makanan favoritku, dan setiap warung pinggir jalan menyajikannya dengan caranya sendiri yang lezat. Tapi tak lama setelah makan, tantangan sesungguhnya dimulai: tanjakan dan turunan curam tanpa henti. Aku harus mendorong sepedaku menaiki tanjakan dan berhati-hati saat menuruni turunan, mengulangi siklus itu berkali-kali.
Meski begitu, momen-momen penyemangat pun datang. Orang-orang di sepanjang jalan tersenyum, melambai, bahkan memotretku saat bersepeda. Gestur-gestur itu mengangkat semangatku lebih dari yang bisa mereka bayangkan.
Menemukan Tempat Berlindung di Kebumen

Saat hari mulai berakhir, aku mulai mencari tempat untuk berkemah. Seorang pemuda menunjukkan tempat yang cocok dan bahkan menunjukkan di mana aku bisa menemukan toilet dan tempat mandi. Bagiku, tempat itu terlihat hanya seperti toilet, tapi ia menjelaskan bahwa itu memang gaya standar di sini—toilet dan tempat mandi jadi satu.
Setelah membilas keringat hari itu, aku melangkah keluar dan disambut oleh seorang pria tua dengan senyum hangat. Ia mengajakku duduk, dan yang mengejutkanku, sebuah hidangan sudah disiapkan.
Kami bercerita tentang banyak hal—dari mana aku berasal, mengapa aku bepergian, apa yang telah kulihat sepanjang perjalanan. Berbagi cerita sambil menikmati keramahannya menjadikan malam itu sempurna.
Pada akhirnya, ia menyambutku untuk menginap semalam di rumahnya. Kehangatan keluarganya, kenyamanan rumah mereka, dan kebaikan sederhana itu mengubah hari yang panjang dan hujan menjadi salah satu yang akan kukenang dengan rasa syukur.
Membawa Rasa Syukur ke Depan

Dari Tasik ke Kebumen, jalanan dipenuhi hujan, keringat, dan tanjakan curam. Namun yang mendefinisikan hari itu adalah orang-orangnya—senyum mereka, gestur mereka, kemurahan hati mereka. Sekali lagi, aku tertidur dengan rasa syukur, diingatkan bahwa keramahan ada di mana-mana, menunggu untuk ditemukan.
