Waktu yang Berpacu
24 Mei telah berlalu, menyisakan hanya dua hari sebelum keberangkatanku pada tanggal 26. Waktu berlalu dengan kecepatan luar biasa—tidak selalu dalam artian buruk, tapi ini benar-benar mengejutkan betapa cepatnya.
Melompat di Atas Permukaan
Entah aku sedang traveling atau sekadar menjalani hidup pada umumnya, aku selalu merasakan kebutuhan mendalam untuk hidup seolah aku "melompat-lompat di atas permukaan air". Kenyataannya, semakin lama aku tinggal di satu tempat dan semakin banyak waktu yang kuhabiskan bersama orang-orang, semakin dalam pula keterikatan emosionalku tumbuh. Itu membuat perpisahan terasa begitu menyakitkan; rasa kesepian mulai merayap masuk, dan aku mulai takut memikirkan untuk pergi.
Aku merasakannya sekarang di rumah orang tuaku, dan aku merasakan hal yang persis sama dulu di Australia saat aku tinggal di tempat Julie selama sekitar lima bulan. Ketika tanggal keberangkatan semakin dekat, aku merasa gelisah dan tidak tenang. Itulah tepatnya mengapa aku lebih suka tidak berlama-lama di satu tempat; jauh lebih ringan bagi hatiku untuk sekadar melompat ringan menuju destinasi berikutnya.
Terjun Langsung

Sebelum makan malam hari ini, aku akhirnya menyelesaikan perakitan trailerku. Aku sudah menunda-nunda karena tampaknya itu pekerjaan yang berat, tapi begitu aku benar-benar memulainya, aku menyelesaikannya hanya dalam satu jam.
Itu adalah pengingat yang bagus bahwa tugas-tugas yang kita bayangkan dalam kepala sebagai membosankan biasanya adalah yang paling cepat diselesaikan. Selalu lebih baik untuk langsung terjun dan menyelesaikan sesuatu tanpa terlalu banyak berpikir.
Tidak Meninggalkan Penyesalan

Setelah makan malam, aku minum sedikit wine, yang jika dipikir-pikir terasa seperti sedikit membuang waktu berharga. Aku masih punya tugas yang menggantung di kepalaku, jadi aku akhirnya harus membuka laptop lagi. Aku benar-benar berharap aku sudah menyelesaikan semua itu pada tanggal 24.
Lebih dari apa pun, aku merasakan sedikit penyesalan karena tidak cukup berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarku. Masih ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan, dan percakapan yang kuharap sudah kumulai. Aku menolak untuk berangkat dengan membawa penyesalan yang tertinggal. Besok, tanggal 25, aku akan berusaha secara sadar untuk meluangkan waktu benar-benar berbicara dan terhubung. Aku perlu menghargai momen-momen singkat ini sebelum aku pergi.
