← Cerita
Diary·Philippines·27 Mei 2026·3 menit baca

Hari yang Panjang dan Intens Menuju Cebu: Perjuangan, Pemandangan yang Menakjubkan, dan Kemenangan Larut Malam

Awal yang Terlalu Manis dan Perjuangan di Dalam Pesawat

Perangkat WiFi global yang disiapkan untuk perjalanan ke Cebu.

Perjalanan yang telah lama dinantikan ke Pulau Cebu akhirnya dimulai. Hariku dimulai dengan bangun jam 4:00 pagi. Menggosok mata yang masih mengantuk, aku menuju bandara dan naik pesawat. Tepat sebelum penerbangan, aku memutuskan mencoba "Banana Affogato" terbaru dari Starbucks. Jujur saja, rasanya sangat manis berlebihan. Aku berharap mendapat sesuatu yang membantuku rileks, tapi lonjakan gula yang intens itu benar-benar mengejutkanku.

Siap naik pesawat, tas sudah dikemas dan rasa antusias mulai membuncah.

Di pesawat, penumpang di belakangku batuk terus-menerus, membuatnya sangat berisik dan sulit untuk beristirahat. Aku melirik ke tetangga sebelahku—yang jelas kesal dan juga tidak bisa tidur—dan berbisik, "Berisik banget ya?". Interaksi kecil itu memicu ikatan yang tak terduga.

Tetangga sebelahku di penerbangan itu, seorang warga Filipina yang pulang kampung setelah bertahun-tahun di Jepang.

Ternyata dia adalah orang Filipina yang sudah lama tinggal di Jepang, pulang kampung selama 10 hari untuk menghadiri pemakaman. Ini membuktikan bahwa jika kita meluangkan waktu untuk berbicara dengan orang lain, kita akan menemukan bahwa mereka semua membawa kisah mereka sendiri yang dalam dan kompleks. Ini pengingat indah tentang nilai koneksi manusia, tepat di sana, di udara.

Pemandangan Pulau yang Menakjubkan dari Atas

Pemandangan udara yang menakjubkan dari pulau-pulau Filipina saat pesawat menurun menuju Cebu.

Saat kami mulai turun, pemandangan pulau-pulau Filipina membuatku terdiam tanpa kata. Air yang jernih dan garis pantai yang menakjubkan benar-benar di luar kata-kata. Semuanya menghantamku sekaligus: "Ini Cebu. Aku benar-benar ada di Filipina."

Mendarat di Bandara Mactan dan mengambil bagasi menandai dimulainya tantangan sesungguhnya. Ini pertama kalinya aku merakit dan mengemas perlengkapanku di luar negeri. Aku cemas apakah semuanya bisa menahan beban yang begitu berat, tapi ternyata prosesnya berjalan lebih lancar dari perkiraan. Namun, turun ke jalan adalah cerita lain. Menerobos lalu lintas yang kacau dan serba cepat itu benar-benar intens. Ada kalanya aku benar-benar mendorong bawaanku seperti gerobak tangan, merasakan kerasnya kenyataan perjalanan ini.

Kekacauan di Jalan dan Menemukan Sisig

Dalam perjalanan dari Bandara Mactan menuju terminal feri, rasa laparku memuncak. Aku belum makan dengan layak sepanjang hari, jadi aku langsung memesan "Sisig," hidangan lokal yang terkenal. Menyantap makanan yang begitu kaya rasa itu dengan perut kosong adalah kebahagiaan murni.

Dengan energi yang terisi kembali, aku menuju feri, hanya untuk menemukannya benar-benar penuh sesak. Yang lebih parah, bawaanku sedikit terlalu lebar untuk gerbang boarding. Sesaat aku panik, bertanya-tanya apakah aku akan berhasil naik, tapi entah bagaimana aku berhasil menyelip masuk dan naik ke kapal.

Menyusuri Jalanan Gelap Kota Cebu

Berjalan menyusuri jalanan gelap Kota Cebu di malam hari sambil menarik trailer.

Saat aku tiba di Cebu City dan mulai bergerak lagi, hari sudah gelap gulita. Berkendara dalam gelap terasa menakutkan pada awalnya, tapi begitu aku terbiasa dengan alurnya, perlahan aku mulai merasa lebih aman. Meski begitu, lalu lintas di sekitarku bukan main-main. Aku sadar aku benar-benar perlu berinvestasi pada pakaian fluoresen yang mencolok untuk perjalanan malam berikutnya.

Akhirnya, aku sampai di "Tamariba," guest house-ku untuk malam itu. Misi selesai. Setelahnya, aku sempat mampir ke rumah seseorang bernama Ms. Shelly untuk mengurus beberapa hal.

Akhir dari Maraton 22 Jam

Sekarang sudah jam 2:30 pagi. Setelah terjaga sejak jam 4:00 pagi kemarin, aku sudah bergerak terus selama lebih dari 22 jam. Secara fisik aku benar-benar lelah, tapi ini adalah hari yang sangat padat dan memuaskan—sesuatu yang tidak akan pernah bisa kualami di Jepang. Rasa pencapaian ini adalah persis alasan mengapa aku traveling.

Bagikan