Berpamitan dengan Kobe dan Kembali ke Wake
Saatnya tiba untuk berpamitan dengan Mr. Iwamura, yang telah dengan murah hati menjadi tuan rumahku selama empat hari. Dia adalah orang yang sangat baik hati dan suka mengobrol, yang dengan hangat berpesan agar aku bebas menggunakan tempatnya kapan pun aku berada di Kobe.

Tujuan berikutnya adalah sebuah kota bernama Wake di Prefektur Okayama. Terletak dekat Kota Bizen—tempat yang terkenal dengan pedang bersejarahnya—Wake memiliki tempat istimewa di hatiku dari masa aku bersepeda keliling Jepang dulu. Aku masih ingat jelas saat mengayuh sepeda melewati daerah ini dan seorang penduduk lokal yang baik hati membelah stroberi segar hasil tanamannya sendiri untuk dibagikan kepadaku, bersama segelas air. Tempat ini sungguh indah dan menenangkan, sepenuhnya dikelilingi oleh alam.
Mabuk Perjalanan dan Penginapan Tua yang Penuh Pesona
Kali ini, aku menuju sebuah guesthouse lokal di Wake. Anehnya, aku malah diantar naik mobil sepanjang perjalanan ke sana. Tepat ketika kami melewati Himeji Castle, untuk pertama kalinya dalam perjalanan ini aku mengalami mabuk perjalanan yang parah.

Namun, aku tidak bisa menyalahkan cara menyetirnya; kemungkinan besar itu karena aku makan terlalu banyak sesaat sebelum naik mobil.
Ketika akhirnya kami tiba di guesthouse itu, aku benar-benar takjub. Begitu melangkah masuk, aroma kaya tatami dan kayu alami langsung menyergapku—begitu kuat hingga rasanya bisa tercium sampai ke luar rumah.

Meskipun ada beberapa serangga yang berdengung di dalam kamar, tempat ini berhasil menangkap dengan sempurna suasana pedesaan Jepang yang kental dan otentik.

Karena hari itu dingin dan hujan, tuan rumahku dengan baik hati menggelar futon-futon besar yang nyaman di sebuah ruangan luas yang terlihat seperti taman bermain impian anak-anak.

Itu adalah tempat peristirahatan yang sangat luas dan menenangkan.
Kehangatan Sejarah di Former Shizutani School
Kemudian, aku melakukan perjalanan singkat ke Former Shizutani School. Didirikan pada zaman Edo, sekolah ini adalah sekolah pelopor yang terbuka bagi samurai maupun rakyat biasa.

Yang mengagumkan, fasilitasnya masih digunakan untuk program pelatihan hingga sekarang.
Bangunan-bangunannya yang terawat dengan sangat baik menampilkan warna kayu yang kaya dan indah, memancarkan kehangatan serta ketangguhan setelah bertahan melintasi berabad-abad sejarah.


Meskipun hujan turun, kolam-kolam dan alam di sekitarnya sungguh memesona, dan aku menghabiskan waktu satu jam penuh hanya untuk meresapi semuanya.

Tempat-tempat seperti ini, yang menawarkan pelajaran sejarah yang mendalam di balik keindahan permukaannya, memiliki nilai yang sangat besar, dan aku sungguh berharap tempat ini dilestarikan untuk generasi-generasi mendatang.
Former Shizutani School
Terletak di lembah yang tenang di Bizen, Former Shizutani School adalah permata arsitektur yang langka dan sekolah umum tertua di dunia untuk rakyat biasa. Dengan aula kuliah berstatus National Treasure yang dihiasi genteng Bizen-yaki yang berkilau dan dikelilingi tembok batu yang megah, situs bersejarah ini menawarkan gambaran mendalam tentang upaya awal Jepang dalam mengejar pendidikan, dengan latar belakang pepohonan kuno dan lanskap berlumut yang tenang.
Momen Tak Terduga Bertemu Katana Asli
Setelah kembali ke guesthouse untuk makan malam, aku mendapat kejutan yang luar biasa. Tuan rumahku ternyata mengeluarkan tiga pedang Jepang asli yang sangat berharga untuk aku periksa.

Itu adalah pertama kalinya aku melihat katana asli dari dekat, menjadikannya penutup yang spektakuler untuk hari yang sudah sangat menakjubkan.
