← Cerita
Diary·Japan·4 Mei 2026·2 menit baca

Pagi Hujan, Klon Suara, dan Membangun "My Life Log" untuk Mengakali Waktu

Awal yang Basah dan Rasa Syukur atas Masakan Rumah

Seorang pria muda berambut hitam panjang dan berjanggut lebat, mengenakan kupluk abu-abu dan kaus lengan panjang, berdiri di area berhutan dengan vegetasi lebat, tampak terkejut.

21 April dimulai sedikit lebih lambat dari biasanya. Aku sempat terbangun sekitar pukul 06.00, tapi setelah menekan tombol snooze beberapa kali, aku akhirnya benar-benar bangun dari tempat tidur pukul 06.50.

Bertekad menjaga rutinitas pribadiku, aku tetap berangkat untuk jalan pagi seperti biasa, tapi langit punya rencana lain. Tetesan hujan mulai turun hampir seketika. Aku pun berjalan di rute yang sama seperti kemarin, lalu buru-buru pulang saat gerimis berubah menjadi hujan deras.

Pemandangan lereng bukit dengan tumbuhan hijau lebat, pepohonan, dan langit berawan, di samping pagar pembatas jalan yang sudah lapuk.

Sesampainya di rumah, bibiku (adik perempuan ibuku) sudah menyiapkan makanan hangat untukku.

Hidangan tradisional Jepang berupa sup miso dengan daun bawang, disertai berbagai lauk seperti sayuran tumis dan acar, disajikan di atas nampan kayu.

Dimasakkan oleh orang lain adalah kebahagiaan yang sederhana namun begitu dalam, dan aku merasa sangat bersyukur atas kebaikannya.

Eksperimen Teknologi dan Pekerjaan Rumah

Setelah makan, aku langsung terjun ke eksperimen teknologi: membuat klon AI dari suaraku sendiri. Aku sudah lama ingin menjalankan podcast sambil bepergian, tapi mencari waktu selalu jadi kendala. Aku pikir klon suara otomatis bisa jadi solusi sempurna agar konten tetap mengalir. Namun, proses pengaturannya ternyata jauh lebih memakan waktu dari perkiraanku, jadi aku memutuskan untuk menyudahinya hari itu dan mencoba lagi besok.

Mengambil jeda dari layar, aku membantu nenek menggosok bersih rak kamar mandi yang kotornya membandel.

Pemandangan rak berdebu yang belum selesai, dengan dinding halus berwarna terang di atasnya.

Tampilan close-up rak kayu dengan kabel listrik di atasnya, dengan latar dinding berwarna netral.

Ada sesuatu yang ternyata terapeutik dari mengotori tangan sendiri dan membuat sesuatu jadi berkilau.

Saat kami selesai, hujan sudah reda. Aku melangkah keluar untuk menikmati sinar matahari dan menyegarkan pikiran sebelum menyantap sepiring spageti untuk makan siang.

Tampilan close-up semangkuk spageti dengan udang dan rempah, disajikan dengan sumpit.

Ngoding "My Life Log": Memvisualisasikan Sisa Waktu Kita

Sisa siang dan malam itu aku habiskan untuk membangun aplikasi web yang aku beri nama "My Life Log". Aplikasi ini pada dasarnya adalah alat pelacak kebiasaan sekaligus perancang hidup.

Tangkapan layar aplikasi hitung mundur kehidupan yang menampilkan usia saat ini (31), perkiraan usia harapan hidup (80), dan sisa waktu (49 tahun, 17.897 hari). Dilengkapi visualisasi tahun yang sudah dijalani dan yang tersisa.

Konsepnya sederhana tapi berat: dengan asumsi rata-rata usia harapan hidup sekitar 80 tahun, sebenarnya berapa banyak waktu yang masih kita miliki? Dengan menghitung sisa waktu itu, aplikasi ini membantu memvisualisasikan dengan tepat berapa jam yang bisa kita curahkan untuk hal-hal yang benar-benar kita cintai. Aplikasi ini juga memaksa kita menghadapi jam-jam yang terbuang sia-sia—seperti scrolling tanpa arah di ponsel—sehingga kita bisa mengoptimalkan rutinitas harian.

Aku membangun ini karena inilah tepatnya alat yang aku butuhkan dalam hidupku sendiri. Aku akhirnya berhasil menjalankan prototipe yang berfungsi sekitar pukul 19.00. Aku yakin masih banyak bug yang harus aku perbaiki nanti, tapi sejujurnya, aku sangat senang melihat visiku menjadi nyata dan tidak sabar untuk terus menyempurnakannya.

Memories of the Road — Japan

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Japan

Bagikan