← Cerita
Diary·Australia·25 Agustus 2025·2 menit baca

🇦🇺 Dari Lavers Hill ke Apollo Bay: Air Terjun, Perjumpaan, dan Langit yang Terlukis

Pagi Bersama Seekor Domba

Aku terbangun oleh suara gemerisik di luar tenda. Awalnya kukira ada yang mengetuk, tetapi saat aku keluar, seekor domba berdiri di sana, menatapku dengan tenang.

Seorang warga setempat menjelaskan bahwa domba itu memang dibiarkan berkeliaran bebas. Melihatnya berjalan-jalan di rerumputan hijau yang luas, ketegangan dari perjalanan perlahan mencair dalam diriku.

Berbelok ke Beech Forest dan Air Terjun

Dalam perjalanan menuju Apollo Bay, aku melewati sebuah pemukiman kecil bernama Beech Forest. Jalan bercabang dua, dan aku memilih jalur sebelah kanan. Jalannya berupa rangkaian tanjakan dan turunan curam, tetapi aku pernah mendengar ada air terjun di depan sana, dan itu memberi kekuatan pada kakiku.

Aku meninggalkan sepedaku dan menyusuri jalan sempit di antara pepohonan. Suara air semakin keras hingga akhirnya aku sampai: sebuah air terjun, mengalir dengan tenang.

Tidak ada papan tanda mencolok, tidak ada kerumunan wisatawan—hanya air yang mengalir seperti biasanya. Keindahannya terletak pada kehadirannya yang tenang, kuat tanpa perlu berisik.

Tiba di Apollo Bay dan Langit yang Terlukis

Setelah mendaki beberapa bukit lagi, jalan pun terbuka lebar. Apollo Bay mulai terlihat, sebuah kota pesisir yang terkenal akan pemandangannya di sepanjang Great Ocean Road.

Aku check-in di sebuah caravan park, ponsel dan kameraku hampir kehabisan daya. Setelah mengisi dayanya, mencuci pakaian, dan mengurus makanan, aku berjalan ke pantai.

Di sana, langit membentangkan warna-warna yang nyaris tak kupercaya: ungu lembut, merah, kuning, hijau, dan birunya laut yang pekat. Tampak seolah pelangi telah digambar mendatar sepanjang cakrawala. Tidak ada foto yang bisa mengabadikannya.

Sebuah Kebaikan Kecil, Hidangan Sederhana

Dalam perjalanan kembali dari laut, seorang wanita yang duduk di bangku menyodorkan sebuah kantong kepadaku dan berkata, “Aku tidak makan marshmallow—ambillah, silakan.” Kalimat sederhana dan hadiah manis itu menghangatkan hatiku.

Malam itu, aku memasak spaghetti. Tanpa resep, hanya mengandalkan insting, hasilnya berujung gagal—lembek, menggumpal, dan hambar. Aku menertawakan diriku sendiri sambil memakannya.

Di Bawah Langit yang Dipenuhi Bintang

Kemudian, langit malam menghapus kelelahan dari tanjakan-tanjakan tadi dan kegagalan makan malam. Lautan bintang terbentang di atas Apollo Bay, mengingatkanku kembali bahwa setiap hari di jalan selalu berakhir dengan sesuatu yang indah.

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan