← Cerita
Diary·Australia·24 Agustus 2025·3 menit baca

🇦🇺 Dari Albany Menuju Cahaya yang Sunyi: Perjalanan 100 Km Penuh Perjuangan dan Keanggunan

Meninggalkan Albany

23 Maret menjadi hari aku akhirnya meninggalkan Albany. Mulai dari sini, tidak akan ada kota besar untuk sementara waktu—hanya beberapa komunitas kecil yang tersebar di sepanjang jalan. Aku pernah mendengar bahwa salah satu kota itu memiliki shower air panas, dan pikiran sederhana itu menjadi motivasiku sepanjang hari.

Bayangan berdiri di bawah air hangat setelah berhari-hari bersepeda dengan medan berat terasa seperti kemewahan kecil, sesuatu yang kunantikan sambil terus mengayuh pedal.

Jalan Berat di Depan

Jalannya jauh dari mudah. Tanjakan dan turunan yang terus-menerus menguras tenagaku, dan angin kencang dari depan membuat setiap kilometer terasa dua kali lebih panjang. Aku beristirahat kapan pun bisa, kadang hanya untuk meminjam toilet, kadang untuk sekadar meneguk sedikit air.

Pada suatu titik, aku memasuki wilayah yang jelas telah dilanda kebakaran hutan. Lanskapnya dipenuhi pepohonan yang menghitam—ranting-ranting yang gundul, batang-batang yang hangus, dan keheningan yang mencekam menggantung di udara. Rasanya seolah-olah tanah itu sendiri sedang menahan napas.

Sejenak, aku memperlambat laju dan meresapi semuanya. Kekuatan alam, baik dalam keindahan maupun kehancurannya, memiliki caranya sendiri untuk menempatkan hidup dalam perspektif yang benar.

Berkah Air dan Shower Air Panas

Setelah berjam-jam bersepeda, aku tiba di Welstead. Aku berdiri di sana, kelelahan, ketika seorang perempuan yang lebih tua menghampiriku. Ia menawarkan air dengan senyum yang ramah. Hanya air, tapi dalam perjalanan seperti ini, pemberian itu berarti segalanya.

Dan kemudian, akhirnya, shower air panas yang telah kunanti-nanti. Gratis, sederhana, tapi begitu hangat hingga terasa seolah kehidupan mengalir kembali ke dalam diriku. Aku berdiri di sana, membiarkan hangatnya membasuh kelelahan, diam-diam bersyukur atas keajaiban kecil ini.

Setelahnya, aku mampir ke toko serba ada di kota itu. Tempat itu mengingatkanku pada toko kelontong di pedesaan Jepang, dipenuhi segala macam barang mulai dari semprotan anti-serangga hingga peralatan memancing, semuanya bercampur jadi satu. Penjaga tokonya bahkan memberiku kentang goreng, dan aku menikmati setiap gigitannya.

Jalan Lurus yang Panjang

Setelah beristirahat sekitar satu jam, aku berangkat lagi. Dari sini, jalan terbentang lurus tanpa akhir. Tidak ada jalur sepeda, tapi juga hampir tidak ada mobil. Hanya aku, angin, dan jalan.

Akhirnya, aku tiba di kota persimpangan kecil bernama Boxwood Hill. Aku berharap bisa berkemah di sana, tapi tidak ada yang buka, dan tidak ada tempat berlindung dari angin. Dengan berat hati, aku memutuskan untuk terus maju.

Pada titik ini, aku telah mengayuh lebih dari 100 kilometer, dan kakiku terasa hampir tak sanggup lagi. Akhirnya, aku menemukan sebuah rimbunan pohon kecil yang menawarkan sedikit perlindungan dari angin. Aku mendirikan tenda dan membongkar barang-barangku.

Malam yang Sunyi, Hadiah dari Langit

Di antara barang bawaanku ada sekitar dua belas botol air—lebih banyak dari yang sebenarnya kubutuhkan, tapi karena masing-masing diberikan kepadaku di sepanjang jalan, aku tak sanggup meninggalkannya. Aku meminumnya perlahan, bersyukur atas kebaikan orang-orang asing.

Saat malam tiba, aku memperhatikan cahaya lembut yang menyinari tendaku. Aku mengeluarkan kameraku, memperbesar gambarnya, dan tampak seolah ada sesuatu yang turun dari langit—pemandangan yang hampir terasa di luar dunia ini.

Satu jam kemudian, matahari perlahan tenggelam menuju cakrawala. Matahari terbenamnya sunyi, bercahaya lembut, dan terasa seperti sebuah hadiah untuk hari yang panjang dan berat.

Malam datang dengan cepat, dan seperti biasa, aku mulai mengantuk sebelum pukul 8 malam. Hidup di jalan itu sederhana—mengayuh, makan, beristirahat, dan tidur. Tapi rasanya begitu pas.

Besok, aku akan melanjutkan perjalanan melewati Boxwood Hill menuju Jacup, siap menyaksikan apa yang menanti di jalan ke depan.

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan