Hari Terakhir di Tasmania

Itu adalah hari terakhirku di Tasmania. Penerbanganku dijadwalkan pada malam hari, dan sampai saat itu tuan rumahku dengan baik hati menawarkan untuk mengajakku berkeliling melihat lebih banyak bagian pulau ini.
Di antara tempat-tempat yang kami kunjungi, Mount Wellington meninggalkan kesan paling kuat. "Aku sempat berpikir untuk menyusuri jalur pejalan kaki," katanya, "tapi hari ini terlalu dingin—ayo kita naik mobil saja."
Saat kami menyusuri jalan gunung yang berliku, aku melihat sisi lain dari dirinya. Biasanya tenang dan mantap, di balik kemudi ia menunjukkan percikan energi. Setiap injakan pada pedal gas membawa intensitas yang tenang, seperti nyala api yang biasanya tersembunyi namun kini menampakkan diri lewat suara mesin.
Salju di Puncak

Kabut naik di antara pepohonan, dengan berkas-berkas sinar matahari menembus dengan cara yang lembut, seperti mimpi. Namun mendekati puncak, suasana berubah tiba-tiba. Suhu turun drastis, dan yang mengejutkanku, salju mulai turun.
"Ternyata benar-benar turun salju…" ucapku keras-keras, tak bisa menahan rasa takjubku. Udaranya hampir membeku, dan aku sudah tak bisa merasakan jari-jariku lagi. Kami berfoto bersama, tersenyum dan membuat tanda peace, tetapi ketika kulihat lagi foto itu nanti, aku memperhatikan jejak kelelahan di wajahnya. Ia pasti telah memberikan yang terbaik selama beberapa hari terakhir ini, memastikan aku menikmati setiap momen.
Raksasa-Raksasa Hutan

Setelah turun dari gunung, ia mengajakku melihat pohon-pohon raksasa Tasmania. Menjulang tinggi dan berakar dalam di tanah, pohon-pohon itu seolah menyimpan kenangan purba di batangnya. Sambil menengadah memandangnya, ia bergumam pelan, "Alam ini memang luar biasa."
Hidangan yang Dibuat dengan Penuh Perhatian

Untuk makan malam, ia menyajikan pizza buatan rumah. Adonannya dipanggang dari awal, memenuhi rumah dengan aroma hangat. Bahkan makanan penutupnya pun buatan rumah. Sambil tersenyum, ia berkata padaku, "Semua di sini dibuat dari bahan-bahan dari kebun."
Tak ada sesuatu yang berlebihan dalam caranya menjalani hidup. Sederhana, tenang, penuh perhatian—selalu bersama alam. Dan kesederhanaan itulah hal paling indah dari semuanya.
Sepucuk Surat Terima Kasih

Setelah makan malam, aku menyerahkan sepucuk surat kepadanya. Surat itu berisi rasa terima kasihku yang sederhana, "terima kasih" yang selalu ingin kusampaikan sepanjang perjalananku. Bersamanya, aku menyertakan selembar kertas kosong dengan catatan: "Kalau kau merasa ingin, mungkin kau juga bisa menulis surat untuk seseorang."
Itu bukan dimaksudkan sebagai permintaan atau kewajiban. Hanya sebuah ajakan kecil—bahwa suatu hari, jika ia teringat seseorang, ia mungkin bisa mengirimkan beberapa kata untuk mereka.
Ketika ia mengantarku pergi kemudian, sosoknya tampak ringan, hampir seperti angin itu sendiri. Aku berpikir dalam hati, "Jika aku bisa menjadi tua dengan cara seperti itu, itu sudah cukup."
Dan dengan pikiran itu, aku berangkat menuju bandara, membawa Tasmania dengan tenang di dalam hatiku.
