Memulai Pagi Lebih Awal untuk Sesuatu yang Penting
Aku bangun pukul 6 pagi—lebih awal dari biasanya. Alasannya sederhana: hari ini adalah hari aku harus meraih White Card, sertifikasi wajib bagi siapa pun yang ingin bekerja di bidang konstruksi di Australia. Tanpanya, tidak akan ada jalan untuk maju di bidang itu.
Kursusnya dimulai pukul 8:30 pagi, dan aku tahu harus tepat waktu. Biasanya, kalau menginap di tempat berkemah, aku bisa bangun pagi tanpa masalah. Tapi di hostel, guesthouse, atau rumah seseorang, itu jauh lebih sulit. Namun kali ini, rasa gugupku justru membantu dan berhasil menarikku bangun dari tempat tidur. Aku bersiap-siap dengan cepat, bahkan menyelesaikan tugas-tugas kecil di pagi hari agar pikiranku lebih tenang. Mandi, sarapan, dan mampir sebentar ke Coles untuk membeli makanan—semuanya dilakukan terburu-buru.
Dalam perjalanan menuju sekolah, tiba-tiba terpikir olehku bahwa mungkin aku memerlukan pensil. Tidak yakin apakah itu benar, tapi aku memutuskan untuk membelinya untuk berjaga-jaga. Harganya tujuh dolar, dan pada akhirnya aku tidak membutuhkannya. Meski begitu, hal itu mengingatkanku bagaimana kita bersiap menghadapi hal yang tidak diketahui, bahkan lewat cara-cara kecil.
Kelas dalam Bahasa Inggris
Aku tiba dan menemukan tempat dudukku. Instrukturnya ramah dan bercerita bahwa ia sendiri sedang belajar bahasa Jepang. Sikapnya sabar dan menenangkan.
Meski begitu, tantangan terbesarku bukanlah materi kursusnya—melainkan bahasanya. Ini adalah kali pertama aku mengikuti kelas penuh dalam bahasa Inggris. Saat istilah-istilah teknis muncul, aku kesulitan. Aku mendengarkan dengan sungguh-sungguh, terkadang nyaris tidak menangkap maknanya. Tapi aku bertahan sampai akhir, yang berlangsung hingga sekitar pukul 3 sore.
Ketika ujian akhir dimulai, jantungku berdebar kencang. Rasanya aku belum pernah segugup ini sejak memulai perjalanan. Aku membaca ulang buku pelajaran berkali-kali, tapi tetap merasa ragu pada beberapa pertanyaan. Menjadi jelas bagiku: bahasa Inggrisku belum cukup kuat. Aku bisa bertahan dalam percakapan sehari-hari, tapi untuk benar-benar memahami, aku perlu belajar dengan sungguh-sungguh. Hari itu, aku berjanji pada diri sendiri untuk membenamkan diri sepenuhnya—mengganti bahasa di ponselku, video-videoku, bahkan kebiasaan sehari-hariku—ke dalam bahasa Inggris.
Keberhasilan dan Kelegaan
Meski gugup, aku lulus. Sertifikatnya akan dikirim menyusul lewat pos, tapi memegang Statement of Attainment di tanganku terasa seperti sebuah pencapaian sejati. Kini, aku memiliki hak untuk bekerja di bidang konstruksi jika aku memilih untuk itu. Rasanya campuran antara lega dan syukur—sebuah pintu telah terbuka.
Perjalanan Kereta dan Rumah Baru
Setelah kursus selesai, aku menuju rumah tuan rumah di dekat Bondi Beach. Untuk sampai ke sana, aku harus naik kereta dari Platform 24. Aku tidak akan pernah melupakan kebingungan pada momen itu. Aku mencari dan terus mencari, tidak yakin harus ke mana, sampai akhirnya menemukannya. Kenangan tersesat, sendirian, namun tetap bertekad—itu adalah kenangan yang akan selalu kubawa.
Di rumah itu, aku disambut oleh Cathy dan seekor anjing ramah bernama Luna. Sejak awal, ia berkata kepadaku, "Pakai saja apa yang kamu suka, anggap rumah sendiri." Kemurahan hati semacam itu jarang ditemukan, di mana pun di dunia ini. Sekali lagi, aku diingatkan betapa perjalanan ini dibangun bukan hanya dari jalan dan pemandangan, tetapi juga dari kebaikan orang-orang.
Untuk saat ini, aku akan menginap satu atau dua malam di sini, mungkin lebih lama. Dengan atap yang aman dan tuan rumah yang baik hati, aku merasa siap untuk langkah-langkah berikutnya dalam petualangan ini.
