Perbaikan Pagi dan Keajaiban Kecil

Udara pagi terasa tajam dan dingin ketika menyusup ke dalam tenda, membangunkanku dengan lembut. Tempat berkemah yang kutemukan jauh di dalam hutan tadi malam nyaris terlalu sunyi, jenis keheningan yang membuatmu mendengar detak jantungmu sendiri. Namun yang paling membekas di benakku bukanlah kesunyian itu, melainkan kekhawatiranku soal perbaikan sepeda. Sejak semalam, pikiran itu terus membebaniku.
Aku menurunkan trailer dan memeriksa dengan hati-hati bagian yang rusak. Tanganku sedikit gemetar saat aku membungkuk, hampir seperti berdoa. Di luar dugaan, tidak ada pecahan yang tersangkut di lubang sekrup. Apa yang seharusnya patah karena beban ternyata terlepas dengan ajaib tanpa kerusakan. Kelegaan membanjiri diriku—aku bahkan mengepalkan tangan diam-diam sebagai tanda kemenangan. Aku berbisik terima kasih pada sekrup kecil yang telah bertahan begitu lama.
Untuk memastikannya, aku mengayuh sejauh 100 meter dengan trailer di belakangku. Tidak ada getaran, tidak ada suara aneh. Bahuku pun mengendur, dan akhirnya aku bisa menarik napas dalam-dalam lagi. Hari ini sudah dimulai dengan sebuah hadiah.
Jalan Menurun dan Penjual Apel
Jalan menuju Cann River sebagian besar menurun. Pedal berputar dengan mudah, dan angin pagi yang dingin menerpa tajam di wajahku. Di kaca spion, aku bisa melihat trailer bergoyang perlahan, membawa bunga-bunga yang kupilih untuk kubawa dalam perjalanan ini. Kehadiran mereka memberikan rasa ditemani yang aneh namun menyenangkan.
Aroma hutan memenuhi paru-paruku sepanjang perjalanan. Ketika aku memasuki kota kecil itu, suara pertama yang sampai ke telingaku berasal dari seorang pria berwajah ramah. "Mau beli apel?" katanya dengan senyum hangat. Tanpa ragu, aku mendapati diriku membuka dompet. Apel-apel itu membawa aroma manis dan sedikit asam, dan saat aku menggigitnya, rasanya seolah waktu di kota itu melambat di sekelilingku.
Taman, Stopkontak, dan Jeda
Di taman kota, aku mengisi botol-botolku dengan air. Lalu aku menyadari sesuatu yang kecil namun berharga: sebuah stopkontak listrik di luar ruangan. Hatiku melonjak. Aku menyambungkan ponsel dan power bank-ku, lalu duduk bersandar di sebuah bangku. Selama satu setengah jam, aku duduk dalam kedamaian sederhana.
Kicauan burung, tawa anak-anak, deru truk yang melintas jauh di jalan raya—semua suara itu berpadu menjadi semacam simfoni perjalanan. Rasanya seperti dunia menyuguhkan musik secara cuma-cuma untukku, mengingatkanku bahwa menunggu pun bisa menjadi hadiah.
Mendaki Menuju Ketinggian 300 Meter
Jalan menuju Genoa terus menanjak, naik hingga ketinggian 300 meter. Tanjakannya curam, dan tak lama napasku berubah menjadi kepulan putih yang terlihat jelas di udara dingin. Pahaku terasa panas terbakar, tapi dibandingkan dengan tanjakan brutal hari sebelumnya, ini masih terasa bisa ditaklukkan. Satu kayuhan demi satu kayuhan, aku terus mendorong diriku ke atas. Kurang dari satu jam kemudian, aku mencapai puncaknya.
Dari sana, turunan datang dengan cepat. Trailer bergoyang mengikuti momentum, bunga-bunga bergeser sedikit saat jalan menurun di bawah kami. Pemandangan mengalir melintas seperti pita yang tergulir lepas, dan untuk sesaat, aku membiarkan diriku menikmati kecepatan itu tanpa kekhawatiran.
Berkemah dalam Kesunyian

Tepat sebelum tiba di Genoa, aku menemukan area istirahat kecil yang tersembunyi di antara pepohonan. Tempatnya sunyi, tersembunyi, dan aman, sehingga aku memutuskan untuk menjadikannya tempat berkemah malam ini. Tidak ada kehadiran manusia, tidak ada sinyal Wi-Fi—hanya gumaman lembut hutan.
Makan malam sederhana: ikan makarel kalengan dan oatmeal. Meski sederhana, kehangatan makanan itu meresap ke dalam tubuhku yang kedinginan, menenangkanku. Ketika malam tiba, katak-katak mulai bernyanyi bersahutan dari kedalaman hutan. Suara mereka yang bertumpuk-tumpuk memenuhi kesunyian hingga pikiranku terasa kosong dengan cara yang membahagiakan.
Besok, tinggal 30 kilometer lagi menuju Genoa, dan setelah itu perbatasan dengan New South Wales akan berada dalam jangkauan. Negara bagian baru, pemandangan baru, dan pertemuan-pertemuan baru menanti. Merangkak masuk ke dalam sleeping bag, aku berbisik pelan, "Aku menantikannya." Kelelahan hari itu dan ketenangan malam menarikku jatuh ke dalam tidur yang dalam dan lelap.
### Hiro | World Bike Traveler | Twitter, Instagram, TikTok | LinktreeView hirotheworld’s Linktree to discover and stream music from top platforms like YouTube, Spotify here. Your next favorite track is just a click away!
