Pagi Perpisahan

Sebelum pukul 8 pagi, aku terbangun oleh kehangatan sebuah rumah yang harinya sudah dimulai. Untuk sarapan, aku dipersilakan mengambil apa saja yang kusuka, jadi aku menuangkan madu dan susu ke atas semangkuk oat dan menambahkan sisa udang dari malam sebelumnya. Rasanya seperti pesta yang tak terduga, kaya rasa dan menenangkan, dan itu memberiku kekuatan untuk apa yang aku tahu akan menjadi salah satu hari tersulit dalam perjalananku sejauh ini.
Tepat sebelum aku berangkat, tuan rumahku melangkah ke taman, memotong sekuntum bunga, dan menyerahkannya kepadaku. Mereka tahu tentang bunga-bunga yang kubawa di trailerku, dan aku merasa gestur itu membawa sebuah harapan—agar taman berjalanku bisa mekar lebih cerah lagi. Sebagai balasan, aku memberi mereka salah satu bungaku dan sepucuk surat tulisan tangan. Terkejut, mereka tersenyum dan berkata, "Ini adalah harta karun." Senyum itu, momen singkat namun tulus berbagi rasa syukur itu, mengingatkanku mengapa aku melakukan perjalanan dengan cara ini.
Menghadapi Tanjakan Tersulit

Aku sudah mempersiapkan diri untuk hari ini. Semua orang telah memperingatkanku bahwa ini akan menjadi bagian tersulit dari perjalananku di New South Wales. Di depan ada tanjakan menuju ketinggian 400 meter—angka yang sebenarnya tidak luar biasa, tetapi dari segi kemiringan, lalu lintas, dan beban trailerku yang penuh muatan, itu menjadi tantangan sesungguhnya.
Jalan mulai miring ke atas, dan hampir seketika setiap kayuhan pedal terasa berat. Maju bahkan hanya 50 meter sekalipun sudah melelahkan. Tanpa jalur sepeda, aku terpaksa fokus pada setiap suara dan getaran, waspada terhadap mobil-mobil yang melintas tepat di belakangku. Usaha itu bukan hanya ada di kakiku, tetapi di setiap saraf dan setiap pikiran, mendorong maju seolah melawan tembok.
Satu setengah jam kemudian, aku akhirnya mencapai puncak. Kakiku gemetar, dan paruku terbakar oleh usaha yang kukeluarkan. Dari semua bulan bersepeda melintasi Australia, tanjakan ini mungkin adalah momen paling brutal yang pernah kuhadapi.
Kelegaan di Jalan Turunan

Dan kemudian, jalan itu melepaskanku. Turunan terbentang di depan, panjang dan membebaskan. Ketegangan meleleh dari tubuhku saat angin berhembus kencang melintasi wajahku. Mataku terbuka lebih lebar di setiap tikungan, menyerap cakrawala yang luas dan merasakan beban itu lenyap.
Masih ada banyak kilometer sebelum Campbelltown, tetapi aku tahu aku akan berhenti sebelum mencapai kota itu. Memasuki Sydney akan menjadi babaknya sendiri, dan aku ingin satu jeda terakhir sebelum melewati ambang batas itu.
Perkemahan Terakhir Sebelum Kota

Saat malam mulai turun, aku menemukan sebidang tanah kecil dekat sebuah kota yang tenang dan mendirikan tenda. Aku memakan buah yang diberikan tuan rumahku pagi itu dan duduk diam, menyadari bahwa ini mungkin adalah perkemahan liarku yang terakhir sebelum Sydney.
Aroma rumput, dinginnya udara malam, dan sisa asap samar dari api yang sudah lama padam mengelilingiku. Detail-detail kecil ini mengingatkanku mengapa berkemah, meski dengan segala kesulitannya, memiliki nilai yang begitu berharga. Dalam bayang-bayang kota besar, malam terakhir di alam terbuka ini terasa sakral.
Besok, Sydney menanti. Tetapi saat duduk di sana, aku menyadari bahwa kebanggaan telah mencapai titik ini sudah menjadi bagian dari diriku. Kota itu akan menjadi tujuan, tetapi tanjakan ini, malam ini, dan semua kilometer sebelumnya sudah menjadi hadiahku sendiri.
