Pagi yang Dipandu Kebaikan Warga Lokal

Hari ini dimulai dengan keberangkatan dari San Miguel. Tujuan berikutnya, Talibon, hanya berjarak sekitar 10 kilometer jika ditempuh dengan berjalan kaki. Tepat saat aku bersiap untuk berangkat, host father-ku menawarkan diri untuk mengantarku, sambil berkata, "Aku ingin menunjukkan padamu berbagai sisi San Miguel".
Dia dengan murah hati meluangkan waktu untuk menunjukkan gereja-gereja lokal, sebuah gunung dengan pemandangan menakjubkan, bendungan yang terkenal, bahkan sekolah tempat cucu-cucunya belajar. Aku sangat tersentuh karena dia menyisihkan begitu banyak waktu dari harinya hanya untuk membagikan kotanya kepadaku. Dia akhirnya mengantarku sampai ke Talibon, dan mengucapkan selamat tinggal terasa sama pahit-manisnya seperti biasanya setiap kali berpisah dengan orang-orang baik hati di jalan.
Pertemuan Kembali dan Death March di Bawah Terik Matahari

Di Talibon, aku bertemu kembali dengan seorang mahasiswa yang sempat berpapasan denganku sehari sebelumnya. Dia mengajakku ke sebuah tempat ayam lokal yang sangat direkomendasikan. Pemiliknya adalah orang yang luar biasa dan sangat murah hati—dia bahkan mentraktirku makan.
Setelah itu, tibalah waktunya untuk memulai perjalanan menuju tujuan berikutnya, Getafe. Matahari benar-benar terik, membuat perjalanan ini terasa brutal. Aku berpacu dengan tenggat waktu ketat pukul 17.30, dengan sisa 12 kilometer yang harus ditempuh. Biasanya itu perjalanan 3 jam dengan berjalan kaki, tapi aku memaksakan diri hingga batas maksimal, hampir berlari untuk menyelesaikannya dalam dua setengah jam.
Keputusan 200 Meter yang Mengubah Segalanya

Benar-benar kehausan, aku bergegas masuk ke sebuah sari-sari store kecil, membeli air, dan langsung tancap gas lagi sejauh 200 meter di jalan berikutnya.
Tapi kemudian, aku tiba-tiba berhenti. Aku bertanya pada diri sendiri, "Kenapa aku begitu terburu-buru? Apa yang akan terjadi jika aku terus terburu-buru?". Aku sadar aku perlu menenangkan diri dan menerima apa pun hasil yang menantiku, baik atau buruk. Aku membuat keputusan berani untuk berbalik arah dan berjalan kembali ke toko kecil itu.
Saat kembali, aku bertanya apakah mereka tahu tempat di sekitar situ tempat aku bisa menginap semalam. Di luar dugaan, orang-orang di toko itu justru mengajakku menginap di rumah mereka! Ini adalah keajaiban takdir yang tidak akan pernah terjadi jika aku terus saja berlari.
Tuba dan Percakapan dari Hati ke Hati

Sebelum masuk ke dalam, sekelompok warga lokal berkumpul di sekitar toko. Kami minum "Tuba" (minuman anggur kelapa lokal) dan mengobrol selama berjam-jam.
Ternyata ibu di rumah itu adalah seorang terapis pijat lokal terkenal yang mendatangkan klien dari seluruh wilayah. Aku juga bertemu dengan seorang wanita luar biasa yang langsung membuatku terkesan. Dia sangat mudah diajak bicara, tapi cerita-cerita yang dia bagikan tentang masa lalunya sangat dalam, berat, dan benar-benar menyentuhku.
Keputusan sederhana untuk menelusuri kembali langkahku sejauh 200 meter itu mungkin telah mengubah secara mendalam seluruh perjalanan Filipinaku. Ini mengajariku pelajaran penting: saat kamu sedang panik atau terburu-buru, justru itulah saat kamu perlu mengambil langkah mundur. Besok, aku akan kembali ke Pulau Cebu, tapi hari ini adalah hari yang benar-benar tak tergantikan.