← Cerita
Diary·Japan·26 April 2026·2 menit baca

Mengucapkan Selamat Tinggal pada Kurume & Berlayar ke Shikanoshima: Reuni yang Menghangatkan Hati

Berpamitan dari Kurume yang Indah

Pagi hari keberangkatanku dari Kurume dipenuhi rasa syukur yang mendalam atas tempat indah yang selama ini sudah aku anggap seperti rumah sendiri.

Aku memperhatikan begitu banyak pembaruan menyenangkan di rumah ini—toilet yang terkenal berderit akhirnya diperbaiki, dan pintu geser fusuma di sisi kiri sudah direstorasi dengan indah ke kondisi semula. Merasa sangat tersentuh oleh ajakan hangat sang pemilik rumah untuk menginap lebih lama lagi di lain waktu, aku pun melanjutkan perjalanan dengan janji teguh untuk kembali setelah menjelajahi dunia.

Perjalanan Menuju Shikanoshima

Tujuan berikutnya adalah Shikanoshima di Fukuoka.

Meskipun namanya mengandung kata "pulau" (shima), tempat ini sebenarnya unik karena terhubung ke daratan utama melalui sebuah gundukan pasir (sandbar). Aku memulai perjalanan dengan turun di Stasiun Saitozaki, menikmati pemandangan lapang yang terbentang saat berjalan menuju pusat kota di tepi pantai.

Dari sana, aku naik kapal feri menuju area Katsuma di pulau itu.

Saitozaki

Saitozaki adalah kota pesisir yang memikat, terletak di ujung semenanjung Uminonakamichi milik Fukuoka, terkenal karena perpaduan uniknya antara sejarah bernuansa Amerika yang nostalgik dan pemandangan Teluk Hakata yang menakjubkan. Dulunya menjadi basis bagi personel militer AS, kawasan ini kini menawarkan pelarian yang tenang dengan arsitektur vintage, kafe-kafe lokal yang menawan, serta akses mudah ke taman-taman tepi laut yang luas, menjadikannya destinasi ideal bagi mereka yang mencari ketenangan dengan sentuhan gaya kosmopolitan pertengahan abad.

Satu Setengah Tahun Kemudian: Pasta dan Janji

Begitu tiba di Katsuma, aku langsung menuju rumah Ricky, yang dengan baik hati mengundangku untuk mampir.

Sudah lebih dari satu setengah tahun sejak terakhir kali kami bertemu. Meskipun bukan hanya kami berdua saja, sambutannya sangat hangat, dan aku disuguhi sepiring spageti buatan rumah yang menggugah selera. Sejujurnya, tidak ada yang bisa mengalahkan masakan rumahan setelah cukup lama berada di jalan. Kami membuat janji yang teguh untuk bertemu lagi setelah aku selesai menjelajahi lebih banyak lagi bagian dunia, menutup hari yang benar-benar memuaskan ini dengan makanan enak dan kebersamaan yang lebih menyenangkan lagi.

Memories of the Road — Japan

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Japan

Bagikan