← Cerita
Diary·Malaysia·23 Agustus 2025·4 menit baca

🇲🇾 Awal yang Hangat di Malaysia: Keluarga, Pesepeda, dan Jalanan Pesisir

Awal yang Hangat di Malaysia: Keluarga, Pertemuan, dan Jalan Terbuka

Salam dari Malaysia, pada 19 November.

Hari ini adalah hari aku akhirnya harus meninggalkan rumah tempat aku disambut dengan hangat. Menginap bersama Pak Suffian dan keluarganya begitu nyaman hingga aku bisa saja tinggal jauh lebih lama. Tapi sebagai seorang musafir, aku harus terus melangkah maju.

Tepat saat aku bersiap untuk pergi, seorang pria baik hati yang telah mengundangku bergabung dengan keluarganya hari sebelumnya memintaku untuk sarapan bersama mereka.

Sarapan dengan Cara Tradisional

Sudah lama sejak terakhir kali aku makan menggunakan tangan, mengikuti kebiasaan setempat. Bagiku, cara makan ini terasa nostalgis, hampir seperti terhubung kembali dengan sesuatu yang telah lama kurindukan.

Aku sangat percaya bahwa ketika kita bepergian, penting untuk beradaptasi dengan cara hidup setempat, bukan melawannya. Dengan begitu, kita menjadi lebih dekat memahami hati orang-orangnya. Berbagi sarapan itu mengingatkanku bahwa makanan lebih dari sekadar nutrisi—ia adalah sebuah koneksi.

Selama percakapan kami, pria ini, yang berusia 42 tahun dan bekerja di ladang sambil menghidupi keluarganya, mengatakan sesuatu yang sangat menyentuhku:

"Gajiku tidak tinggi, tapi aku punya waktu bersama keluargaku, dan keluargaku bahagia. Kami tersenyum setiap hari—dan itu sudah cukup."

Kata-kata itu diucapkan bukan dengan keraguan, melainkan dengan kejujuran alami yang hanya bisa lahir dari pengalaman hidup. Di Jepang, banyak buku dan perdebatan bertanya, Apa itu kebahagiaan? Tapi di sini, dalam sebuah sarapan sederhana yang dibagikan di lantai sebuah rumah Malaysia, aku merasa telah mendengar salah satu jawaban paling mendalam.

Pertemuan Tak Terduga di Jalan

Setelah sarapan, aku berangkat lagi. Tepat saat aku hendak pergi, aku bertemu sekelompok empat pesepeda asal Singapura yang sedang bersepeda dari George Town menuju Alor Setar. Sepeda mereka berwarna-warni dan kreatif—begitu unik hingga aku merasa terinspirasi untuk merancang sepedaku sendiri suatu hari nanti.

Meski hanya pertemuan singkat, kami berjanji untuk bertemu lagi saat aku tiba di Singapura.

Tak lama kemudian, aku tak sengaja bertemu Suffian lagi. Kehidupan di jalan penuh dengan kebetulan seperti ini, dan setiap satu terasa seperti pengingat lembut akan ikatan yang terbentuk dalam waktu singkat.

Aku berterima kasih lagi padanya atas kebaikannya dan berjanji bahwa setelah perjalananku selesai, aku akan kembali. Awalku di Malaysia sudah terasa seperti sebuah berkah.

Bersepeda Menyusuri Pesisir

Rute hari ini sederhana: mengayuh lurus menyusuri jalan pesisir. Aku berencana untuk terus mengikuti pantai hingga Kuala Lumpur, melewati kota-kota kecil alih-alih kota besar seperti Ipoh.

Ada dua alasan untuk pilihan ini. Pertama, sejarah Malaysia di sepanjang laut—dibentuk oleh masa penjelajahan besar—masih terasa di kota-kota pesisirnya. Aku ingin merasakan budaya itu. Kedua, berkemah lebih mudah di dekat laut, dan kebebasan itu memanggilku.

Makan Siang dan Keramahan Setempat

Untuk makan siang, aku kembali ke tempat kecil yang sama di mana aku minum Nira segar kemarin. Kali ini, aku memesan semangkuk mi tipis dengan telur goreng di atasnya dan segelas "Oren," jus jeruk peras segar.

Keduanya lezat. Satu hal yang kusukai dari Malaysia adalah betapa murah hatinya mereka menyajikan minuman—gelas diisi penuh hingga ke bibir, sebuah kebaikan kecil yang membuatmu merasa disambut.

Kemudian, seseorang melambai padaku saat aku bersepeda lewat. Aku berhenti dan berbicara dengannya, dan mereka menjelaskan bahwa budaya menyambut musafir mereka berakar pada Islam.

Di Jepang, Islam sering kali membawa stereotip negatif. Tapi apa yang kualami di sini justru sebaliknya: kemurahan hati, kehangatan, dan keramahan. Dalam keyakinan mereka, membantu musafir adalah perbuatan baik, dan hal ini telah membentuk budaya di mana kebaikan kepada orang asing terasa alami.

Aku sadar lagi betapa sedikitnya yang kuketahui tentang agama. Perjalanan ini akan menjadi ruang kelasku, dan aku akan terus belajar seiring melangkah maju.

Pertemuan di Tepi Pantai

Setelah tiga jam bersepeda, aku tiba di sebuah pantai dekat tujuanku. Sambil beristirahat, seorang pemuda memberitahuku bahwa aku bisa berkemah di sana malam itu.

Saat aku membongkar barang bawaanku, aku menemukan sesuatu yang kukira sudah hilang—sebuah mainan kecil yang diberikan seorang gadis berusia enam tahun selama perjalananku. Itu membuatku tersenyum. Sahabat kecil ini akan terus menjelajahi dunia bersamaku.

Tak jauh dari situ, sebuah kios menjual kentang goreng berbentuk spiral, sesuatu yang belum pernah kulihat di sini sebelumnya. Di sebuah pantai sepi di mana tak ada apa pun lagi yang tersedia, bahkan makanan sederhana ini terasa seperti sebuah hadiah.

Pantainya sendiri hampir kosong—seperti sebuah tempat peristirahatan pribadi, hanya ada suara ombak dan sesekali terlihat kadal-kadal besar. Pertemuan dengan makhluk-makhluk asing juga menjadi bagian dari kegembiraan bepergian.

Hadiah Terakhir untuk Hari Ini

Saat aku hendak mendirikan tenda, sebuah keluarga yang sedang piknik di dekat situ memberiku sebuah onigiri. Rasanya sedikit pedas, dan pas sekali untuk mengakhiri hari itu.

Dari pagi hingga malam, aku telah disambut dengan kebaikan, kemurahan hati, dan pertemuan-pertemuan tak terduga. Aku merasa bersyukur untuk setiap momennya.

Saat pertama kali memasuki Malaysia, aku bertanya-tanya bagaimana semuanya akan berjalan. Tapi sekarang, aku merasa yakin—ini akan menjadi perjalanan yang penuh kegembiraan, pembelajaran, dan koneksi antarmanusia.

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Malaysia & Singapore

Bagikan