← Cerita
Diary·Australia·25 Agustus 2025·2 menit baca

🇦🇺 Pagi Hujan, Burung Beo, dan Kehangatan Mornington Peninsula

Pagi Hujan dan Sarang Para Burung Beo

Pukul enam pagi, di bawah langit yang redup dan berat, aku sarapan mi dan kopi. Udara membawa firasat hujan, dan tak lama kemudian tetesannya mulai turun, berubah menjadi hujan yang stabil. Namun aku tidak khawatir. Aku sudah punya rencana hari itu—Robyn, yang tinggal di Mornington Peninsula, akan datang menjemputku.

Alih-alih gelisah, aku malah menikmati irama tenang tetesan hujan itu. Tepat di depan tendaku, sekelompok burung beo warna-warni sedang membangun sarang mereka. Ada yang membawa ranting, ada yang berjaga-jaga, ada pula yang dengan cermat menyusun dahan-dahan. Rasanya seperti mengintip sebuah masyarakat kecil, sebuah keluarga yang bekerja sama. Aku memperhatikannya cukup lama, sampai lupa akan dinginnya hujan.

Pesisir Mornington dan Kafe Tepi Laut

Pukul setengah sepuluh, Robyn tiba dengan senyuman. Kami berjabat tangan, memindahkan tas-tasku ke dalam mobilnya di tengah hujan, dan tak lama kemudian kami sudah berada di sebuah kafe tepi laut. Secangkir kopi panas menghangatkanku saat aku memandang laut yang tenang dan kelabu.

Dari sana, kami berkendara menuju kota Mornington. Di sepanjang pantai berjejer pondok-pondok berwarna-warni. Robyn menjelaskan bahwa itu adalah pondok pribadi milik keluarga-keluarga kaya, yang biasanya digunakan hanya pada akhir pekan. Hanya sepuluh detik dari air laut, setiap pondok membawa selera unik pemiliknya lewat warna-warna cerah dan hiasannya. Pondok-pondok itu terasa hampir seperti potret kecil kepribadian masing-masing pemiliknya.

Makan Siang di Tengah Hujan dan Pasta Ungu

Lebih jauh ke selatan, di tengah hujan deras, kami singgah di sebuah tempat bernama General Wine Store. Dari menu yang ada, aku memilih seporsi pasta yang tidak pernah kulihat sebelumnya—ditaburi sayuran berwarna ungu.

Tampilannya hampir seperti rumput laut atau jamur kuping, tetapi rasanya segar dan halus, sesuatu yang belum pernah kutemui di Jepang. Dipadukan dengan suara hujan di luar, hidangan itu meninggalkan kesan yang mendalam. Itu adalah momen ketika rasa, tempat, dan cuaca berpadu menjadi satu kenangan yang begitu hidup.

Kehangatan Sebuah Rumah dan Sup Miso untuk Besok

Setelah makan siang, kami mampir ke toko bahan makanan Asia untuk membeli beberapa bahan. Aku memutuskan untuk memasak sup miso untuk makan malam besok, jadi aku mengambil pasta miso dan sayuran.

Rumah Robyn dipenuhi dengan aroma kayu. Kamar mandi yang luas, kamar tamu yang terawat rapi, dan taman yang damai tempat seekor anjing berjalan-jalan dengan santai—semuanya terasa begitu ramah. Malam itu, aku memasak hidangan sederhana bergaya telur dadar. Ketika Robyn tersenyum dan berkata, "Enak," aku akhirnya merasa lega.

Jarak yang kutempuh hari ini memang tidak banyak, tetapi angin laut Mornington Peninsula, kehangatan sebuah rumah keluarga, dan cita rasa baru yang kutemukan menjadikan hari ini begitu berkesan. Lusa, perjalanan sepedaku akan kembali bergerak maju.

Memories of the Road — Australia

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Australia

Bagikan