← Museums
Museums·Indonesia·5 menit baca

Museum Kota Makassar: Ingatan Sang Kota, Bukan Ingatan Sang Kerajaan

Kisah Makassar yang Berbeda

Segala sesuatu yang telah saya saksikan di wilayah ini sejauh ini menceritakan kisah Kerajaan Gowa, tembok-tembok benteng Somba Opu, ruang singgasana Balla Lompoa, kebangkitan dan keruntuhan satu dinasti sepanjang lima abad. Museum Kota Makassar menceritakan kisah yang sama sekali berbeda, bukan kisah sebuah kerajaan, melainkan kisah sebuah kota. Museum ini terletak tepat di pusat Makassar, mudah dijangkau, mudah pula terlewatkan bila Anda belum tahu keberadaannya, dan Anda bisa menjelajahinya dari awal hingga akhir tanpa dipungut biaya.

Tulisan berwarna merah pada papan nama Museum Kota Makassar di luar gedung, dikelilingi pepohonan.

Balai Kota Belanda, Dipakai Ulang Tiga Kali

Gedungnya sendiri adalah pameran pertama. Bangunan ini didirikan pada 1916 di bawah pemerintahan kolonial Belanda sebagai Balaikota, balai kota Makassar, dengan gaya Art Deco Eropa yang hingga kini masih jelas terlihat: dinding putih, atap cokelat kemerahan, jendela-jendela melengkung yang tinggi, kolom-kolom di bagian depan menopang atap yang menjorok panjang. Bangunan ini dibangun untuk menandai saat Makassar secara resmi diakui sebagai sebuah Gemeente, sebuah kotamadya yang sesungguhnya, dan sejak itu berfungsi sebagai pusat administrasi kota. Sebuah patung rusa berdiri di halaman, satu lagi detail dari tata letak asli yang masih bertahan hingga kini. Setelah kemerdekaan Indonesia, gedung ini beralih ke Bappeda, badan perencanaan pembangunan daerah, sebelum akhirnya dibuka kembali sebagai museum pada 7 Juni 2000, sebuah inisiatif yang dikreditkan kepada wali kota saat itu, Drs. H.B. Amiruddin Maula. Di dalamnya, sebuah bangunan depan dan sebuah bangunan belakang terhubung melalui sebuah aula tengah yang bisa dicapai langsung dari pintu masuk utama, dengan sebuah tangga simetris menjadi poros di tengahnya serta sebuah auditorium dan ruang audiovisual yang turut direncanakan dalam tata letaknya.

Fasad putih bergaya Art Deco dari bekas Balaikota, kini Museum Kota Makassar, dengan sebuah meriam tua terpasang di pelataran depannya.

Bata, Bilah Pedang, dan Uang Kertas Zaman Perang

Kunjungan dimulai di lantai dasar, melalui pintu di sebelah kiri. Ruangan pertama menyatukan koleksi arkeologi dan sejarah museum ini: bata-bata berukir motif geometris dan hewan, diangkat dari hasil ekskavasi tembok benteng Somba Opu pada 1987, penemuan yang sama yang akhirnya membuka kembali seluruh situs itu untuk umum. Di sampingnya berjejer meriam-meriam tua, serba-serbi perlengkapan militer Eropa, di antaranya helm Belanda dan Spanyol serta sebilah pedang Portugis, dan peta-peta tua yang memetakan kota beserta benteng-benteng yang dahulu mengelilinginya. Satu lemari menyimpan sesuatu yang lebih spesifik dan lebih ganjil: uang kertas yang diterbitkan pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, mata uang yang benar-benar beredar di sini selama masa perang tersebut. Sedikit lebih jauh di ruangan yang sama, sebuah sepeda tua berdiri diberi tali pembatas di depan sebuah foto hitam-putih berukuran besar yang menggambarkan jalanan lama Makassar, para pesepeda dan pejalan kaki melintas di depan deretan toko dari zaman yang sepenuhnya berbeda, monumen kecil museum ini bagi rupa jalanan kota sehari-hari pada masa itu.

Bata-bata berukir motif geometris, digali dari reruntuhan benteng Somba Opu, dipajang dalam lemari kaca.

Sebuah sepeda tua diberi tali pembatas di depan sebuah foto hitam-putih besar yang menggambarkan suasana jalanan lama Makassar.

Terpisah dalam lemarinya sendiri di dekatnya, ada sesuatu yang langsung saya kenali: sebuah diorama miniatur terperinci dari Benteng Somba Opu itu sendiri, temboknya, gerbangnya, gugusan rumah-rumah tradisional yang tertata di dalamnya, dibuat dengan skala yang membuat seluruh situs itu bisa dipahami sekaligus dalam sekali pandang, dengan cara yang tak pernah sepenuhnya bisa didapat hanya dengan berjalan di lahannya yang sesungguhnya. Melihatnya di sini, di sebuah museum yang didedikasikan untuk kota, bukan untuk kerajaan, menjadi pengingat betapa eratnya kisah urban Makassar dan kisah kerajaan Gowa saling terjalin, di museum mana pun Anda kebetulan sedang berdiri.

Sebuah diorama miniatur terperinci dari Benteng Somba Opu, memperlihatkan tembok bentengnya, gerbangnya, dan rumah-rumah tradisionalnya.

Satu Ruangan Penuh Alat Musik, Satu Lagi Penuh Sutra

Lebih jauh ke dalam lantai dasar, koleksinya beralih dari sejarah menuju budaya. Satu ruangan hampir seluruhnya diberikan untuk alat musik tradisional, variasinya lebih banyak dari yang saya duga untuk museum seukuran ini: kacapi, keso-keso, alat musik gesek yang memberi nama pada lemari pajangan itu, gendang, dan sesuatu yang bentuknya mendekati tifa yang baru-baru ini saya coba pelajari sendiri cara memainkannya tak lama sebelum perjalanan ini. Di sebelahnya, sebuah ruangan busana tradisional menempatkan pakaian Bugis dan Makassar berdampingan pada manekin-manekin, busana resmi merah dan emas sarat dengan makna simbolis yang dicoba diuraikan sebuah papan keterangan di dekatnya dalam beberapa paragraf yang padat, kode warna menandakan usia dan status pernikahan, hiasan kepala dan gelang menandakan kedudukan.

Sebuah alat musik gesek keso-keso tradisional dipajang dalam lemari kaca berdampingan dengan alat musik Sulawesi lainnya.

Dua manekin mengenakan busana resmi tradisional Bugis dan Makassar, masing-masing diberi label.

Di Lantai Atas, Sebuah Teater dan Meja Wali Kota

Lantai atas menampung dua ruangan yang sangat berbeda. Satu adalah ruang pemutaran kecil, kursi-kursi beludru merah menghadap layar proyeksi sederhana, jelas dimaksudkan untuk memutar sesuatu, mungkin cuplikan sejarah atau film orientasi, meski tidak ada yang diputar pada hari saya berkunjung. Ruangan satunya sama sekali mengubah nuansa: sebuah kantor yang dipertahankan keasliannya, lengkap dengan meja kayu yang berat, kursi berlengan berlapis kain biru, lampu gantung yang megah di atasnya, seragam putih terpasang pada sebuah penyangga, dan sebuah potret besar yang mengawasi semuanya. Papan nama di meja itu bertuliskan M. Dg. Patompo, seorang mantan wali kota Makassar, dan keseluruhan ruangan itu terasa bukan seperti lemari pajangan museum, melainkan lebih seperti kantor itu sendiri, yang begitu saja dibiarkan berdiri, bukan dikosongkan.

Sebuah ruang pemutaran kecil dengan deretan kursi beludru merah menghadap layar proyeksi.

Sebuah kantor wali kota yang dipertahankan keasliannya, dengan meja kayu, kursi berlengan biru, lampu gantung, dan sebuah potret di dinding, ditandai dengan papan nama M. Dg. Patompo.

Sembilan Ratus Benda, dan Dua Cara Membaca Kota yang Sama

Keseluruhan koleksinya mencapai sekitar sembilan ratus benda, digolongkan ke dalam empat kategori resmi: Archaeologica, Historica, Keramologica untuk koleksi keramik Tiongkok museum ini, dan Numismatica untuk koin dan mata uangnya, termasuk uang kertas zaman pendudukan tadi. Di bagian lain gedung ini, yang tidak sempat saya foto, terdapat sebuah foto pelabuhan Paotere dari tahun 1905 yang disebut-sebut sebagai salah satu koleksi tertua museum ini, sebuah patung Ratu Wilhelmina peninggalan zaman kolonial, dan foto-foto lama jalanan berbatu, becak, serta layar-layar kapal pinisi yang memadati pelabuhan.

Berdiri di kantor wali kota itu menjelang akhir kunjungan saya, pikiran saya terus kembali ke Somba Opu dan Balla Lompoa, dan pada betapa berbedanya cara gedung ini memilih untuk mengenang jalur pesisir yang sama. Tempat-tempat itu menyimpan ingatan sebuah kerajaan, ruang singgasananya, mahkotanya, perangnya. Gedung ini menyimpan ingatan sebuah kota yang tengah mencari cara menjalankan dirinya sendiri setelah masa kerajaan itu berlalu, satu kantor kota, satu sepeda, satu lembar uang kertas zaman pendudukan pada satu waktu. Bersama-sama, keduanya terasa hampir seperti dua jam berbeda yang tergantung pada dinding yang sama, masing-masing berjalan pada waktu yang sepenuhnya berbeda.