Keheningan yang Tak Bisa Dijelaskan
Perjalanan dari Makassar memakan waktu sekitar sepuluh sampai lima belas menit dengan motor — nyaris tidak cukup waktu untuk menyadari bahwa Anda telah meninggalkan kota sebelum atap-atap rendah Sungguminasa mulai merapat di sekeliling Jalan Sultan Hasanuddin, jalan yang sama yang dinamai dari raja yang dahulu memimpin Gowa berperang melawan Belanda. Kemudian halamannya terbentang lebar dan beraspal, dan ada sesuatu pada tempat ini yang menjadi sunyi dengan cara yang sulit dijelaskan. Motor-motor masih melaju kencang tepat di luar pagar. Entah bagaimana, tak satu pun dari itu tampak menembus ke dalam halaman. Mungkin ini sekadar hitungan sederhana — terlalu banyak lahan untuk terlalu sedikit orang yang berdiri di atasnya — tetapi rasanya seperti sesuatu yang lebih disengaja dari itu, seolah keheningan itu memang dibangun bersamaan dengan tembok-temboknya.

Dua bangunan kayu panjang berhadap-hadapan melintasi halaman. Yang di sebelah kiri, saya menduga, disediakan untuk perayaan dan acara-acara khusus — terkunci dan sunyi pada hari saya berkunjung. Yang di sebelah kanan adalah tempat Anda masuk.
Rumah yang Cukup Besar untuk Disebut Istana
Balla Lompoa dalam bahasa Makassar berarti sesuatu yang nyaris sederhana: rumah besar. Orang-orang yang tinggal di dalamnyalah yang mengubah ungkapan itu menjadi sesuatu yang jauh lebih agung — sebuah keluarga yang oleh bahasa itu dianggap cukup besar sehingga rumah besar mereka begitu saja, seiring waktu, menjadi istana. Bangunan ini, yang masih berdiri di Jalan Sultan Hasanuddin No. 44, didirikan pada 1935 dan 1936 di bawah raja Gowa ke-35, I Mangi-mangi Daeng Matutu Karaeng Bontonompo, yang dikenal dengan gelar kerajaannya Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin. Ia mewariskannya kepada penerusnya, raja ke-36, Andi Ijo, dan bangunan ini menjadi — lebih karena keadaan ketimbang rancangan — Balla Lompoa terakhir yang pernah dibangun kerajaan Gowa. Sebelum ini ada yang menyandang nama yang sama. Tak satu pun dari mereka bertahan.
Ditinggikan di atas tiang-tiang seperti lazimnya sebuah rumah panggung tradisional Bugis-Makassar, bangunan ini menempati lahan seluas 7.663 meter persegi, dengan 1.144 meter persegi kayu jati membentuk rangka rumahnya sendiri — sebuah tangga setinggi lebih dari dua meter hanya untuk mencapai teras, beberapa sambungan yang dibaut alih-alih disambung secara tradisional, sedikit bata yang diam-diam disisipkan ke dalam dapur, tempat tradisi memberi ruang bagi kepraktisan. Tidak ada satu pun dari bangunan ini yang seolah meminta maaf atas pilihan-pilihan tersebut.
Dari Ruang Singgasana Menjadi Loket Tiket
Kerajaan itu sendiri tidak bertahan lama setelah rumah yang dimaksudkan menjadi tempat tinggal terakhirnya ini berdiri. Ketika sistem administrasi Indonesia melebur wilayah-wilayah swapraja yang dulu berpemerintahan sendiri ke dalam provinsi-provinsi swatantra biasa, peran sang raja pun turut lenyap — seorang penguasa yang di atas kertas berubah menjadi seorang bupati daerah. Balla Lompoa dibuka sebagai museum pada 11 Desember 1973, istana ini berubah, nyaris dalam semalam, menjadi tempat di mana Anda membayar 5.000 rupiah dan melepas alas kaki di pintu masuk.

Di dalam, ruangan pertama sama sekali tidak meremehkan masa lalu yang dijaganya — dinding merah pekat, hiasan tepi berwarna emas, seluruh ruang dibangun mengelilingi sebuah singgasana tinggi berkanopi tempat seorang raja dahulu pernah duduk, potret-potret berbingkai mengawasi dari kedua sisi. Tidak butuh waktu lama untuk melewatinya. Tapi rasanya juga tidak seharusnya seperti itu.

Apa yang Tersimpan di Balik Kaca
Jumlahnya berbeda-beda tergantung siapa yang menghitung — sekitar 140 artefak inti, atau sebanyak 465 buah bila replika dan benda-benda pendukung turut dihitung — tetapi koleksi ini dibangun bukan terutama pada jumlahnya, melainkan pada segelintir benda yang memikul begitu banyak makna. Yang paling utama adalah Saloko, sebuah mahkota emas murni yang konon pernah dimiliki Karaeng Tumanurung Bainea, raja pertama Gowa, sekitar awal abad keempat belas — beratnya 1.766 gram, disimpan di sebuah ruangan yang tidak pernah dimasuki publik. Yang dipajang adalah replikanya. Mahkota asli hanya dikeluarkan tepat satu kali dalam setahun, pada saat Accera Kalompoang, sebuah upacara yang seluruhnya dibangun di sekitar pembersihan pusaka-pusaka kerajaan.

Sisa ruangan ini pun pantas mendapatkan lemari kacanya masing-masing. Lasippo, sebilah parang besi yang dijuluki Laupu Tuli, diceritakan menyimpan kekuatan spiritualnya sendiri. Gelang-gelang Ponto Janga-Jangaya melingkar membentuk naga — satu kepala pada Maripuang, dua kepala pada Tanipatuang. Sebuah Al-Qur'an tulisan tangan dari abad keenam belas berada tak jauh dari naskah-naskah Lontara kuno, aksara yang dahulu membawa sejarah Sulawesi Selatan dengan tulisannya sendiri, jauh sebelum siapa pun di sini membutuhkan aksara orang lain.

Senjata, busana istana, mata uang perak dan perunggu, alat musik tradisional, potret raja demi raja yang terentang jauh lebih ke belakang daripada yang bisa ditelusuri secara wajar oleh siapa pun yang berkunjung — seorang sejarawan membaca seluruh koleksi ini sebagai semacam potret diri yang ditinggalkan kerajaan, dibangun di sekitar lima gagasan sekaligus: laut, kemegahan, identitas etnis, agama, dan tekad untuk berjuang. Berdiri di dalam ruangan itu, tafsiran tersebut tidak sulit untuk dipercaya.


Dua Ruangan, dan Deretan Kereta di Luar
Sebenarnya hanya ada dua ruangan, dan tak satu pun dari keduanya memakan waktu lama. Namun hampir tidak ada pengunjung lain pada hari saya datang, sehingga saya membiarkan diri berjalan lebih lambat dari yang mungkin diharapkan museum ini, dan seorang pemandu menemani saya hampir sepanjang kunjungan, melengkapi apa pun yang tidak disebutkan pada papan keterangan. Waktu yang saya habiskan di sana ternyata jauh lebih berharga daripada yang bisa diduga dari ukuran tempatnya.
Di luar lagi, melewati loket tiket, sederet kereta kayu tua terparkir di tempat teduh — sesuatu yang mirip jinrikisha lama dari Jepang, ditarik alih-alih dikayuh, hiasan emasnya menipis di sepanjang pelek rodanya. Tidak ada yang menawarkan tumpangan. Kereta-kereta itu hanya duduk di sana, satu lagi benda yang disimpan kerajaan ini, sama seperti mahkota yang tak seorang pun boleh melihatnya dan naskah-naskah yang nyaris tak seorang pun bisa membacanya lagi. Lima ribu rupiah, dan entah bagaimana semua itu ikut di dalamnya.
