Dalam pembicaraan ini, Hiro merefleksikan caranya menjalani perjalanan bersepeda keliling dunia sebagai serangkaian eksperimen, bukan sekadar daftar tujuan yang harus dicentang. Baginya, bepergian bukan soal kecepatan atau keamanan, melainkan soal rasa ingin tahu—bertanya “apa yang akan terjadi jika aku mengambil jalan ini, bukan jalan itu?”—dan kesediaan untuk menghadapi ketidakpastian.
Ia teringat sebuah momen di Thailand ketika ia mengambil jalan tanah yang asing, tanpa yakin apakah harus berbalik arah. Pilihan itu membawanya pada pertemuan yang menegangkan dengan anjing-anjing yang menggonggong, dan pada akhirnya, dengan sebuah keluarga yang menyambutnya ke rumah mereka dengan makanan dan tempat berlindung. Itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan—sesuatu yang tidak bisa direncanakan oleh buku panduan mana pun.
Hiro menggambarkan pola pikir ini sebagai bersepeda dengan “visibilitas 20%”: melihat jalan di depan hanya secukupnya untuk terus melaju, sambil menyisakan ruang bagi kejutan. Kepastian yang berlebihan terasa membosankan; kegelapan yang berlebihan terasa membebani. Namun dalam keseimbangan ketidakpastian yang sebagian itulah, petualangan dan pertumbuhan bisa terungkap.
Melalui filosofi ini, setiap belokan menjadi sebuah eksperimen—terkadang berhasil, terkadang tidak, tetapi selalu terasa hidup. Hiro mendorong orang lain untuk merangkul pendekatan ini tidak hanya dalam perjalanan, tetapi juga dalam kehidupan: mengambil jalan yang tidak pasti, tempat bagian-bagian tersembunyi dari diri kita mungkin sedang menunggu untuk ditemukan.
https://www.youtube.com/watch?v=UKjFZGC3m5U&list=PL0f--SbyOr0x7dcm-lW0g5LmCeHq5LRmk&index=3