Hujan Deras Tengah Malam dan Awal yang Berat

17 Juni. Aku bangun hari ini dengan perasaan yang benar-benar segar. Kenapa? Karena sekitar tengah malam, hujan turun sangat deras di luar. Kalau saja aku tidur di luar ruangan, itu pasti jadi bencana total, jadi aku sangat bersyukur bisa aman di dalam.
Aku makan sisa makanan dari kemarin dan mulai berangkat sekitar pukul 7:30 pagi. Namun, bahkan sebelum berangkat, perutku sudah dalam kondisi buruk. Siklusnya jahat: makan, sakit perut, lari ke toilet. Aku minum obat pencernaan dan entah bagaimana berhasil bergerak juga.
Terus Melaju Menuju Ayungon

Targetku hari ini adalah mencapai sebuah kota bernama Ayungon, dengan harapan bisa mendirikan tenda atau setidaknya beristirahat di sana. Aku hanya terus melaju lurus ke depan.


Di sepanjang jalan, aku mengalami begitu banyak pertemuan yang menyenangkan. Tepat sebelum Ayungon, sebuah keluarga setempat memanggilku dan mengajakku mampir. Saat ini, aku berada di sebuah tempat bernama Bindoy di Negros Island, Filipina. Bahkan hanya dua kilometer sebelum tiba di sini, seseorang dengan baik hati memberiku air minum.
Keajaiban Melangkah Keluar dari Zona Nyaman

Ketika kau melangkah keluar dari tempat-tempat biasamu dan mulai bergerak, drama pun terjadi. Kadang tidak terjadi apa-apa sama sekali, tapi itu juga bagian dari perjalanan.

Kau tidak bisa hanya berdiri diam; kau harus terus melangkah maju. Memang, melangkah maju berarti kau mungkin akan diabaikan atau menghadapi situasi buruk, tapi itu juga membawa begitu banyak momen menyenangkan yang tak terduga. Sudah 13 hari sejak aku memulai perjalanan ini, dan hari ini aku merasakan kebenaran itu lebih kuat dari sebelumnya.
Semakin Dekat dengan Dumaguete
Hari ini aku akhirnya menempuh sekitar 30 kilometer. Sekarang aku kira-kira berjarak 70 hingga 71 kilometer dari tujuan akhirku, Dumaguete.
Turun di bawah tanda 100 kilometer dan mencapai angka 70-an benar-benar membuatku merasa garis akhir sudah terlihat. Aku berencana menempuh sekitar 24 kilometer besok, yang akan menyisakan sekitar 40 kilometer lagi. Begitu aku mencapai tanda 40 kilometer itu, semuanya akan terasa jauh lebih ringan secara mental. Garis finis perlahan mulai terlihat, jadi aku hanya akan terus mengayuh.