Selamat Tinggal, Kota Para Dewa
Akhirnya tiba waktunya untuk berpamitan dengan Prefektur Shimane. Aku berangkat dari Kota Izumo, sebuah tempat di mana bahkan stasiunnya pun terasa seperti kuil, benar-benar meresapi suasana sakral kota ini.

Dari sana, aku memulai perjalanan lebih jauh ke wilayah barat Jepang, dengan tujuan Shimonoseki di Prefektur Yamaguchi.
Ujian Ketahanan Empat Jam
Perjalanan kereta menuju Shimonoseki berubah menjadi situasi yang cukup canggung. Seorang penumpang yang sangat cantik dan manis duduk tepat di sebelahku, tapi ada suasana tegang yang unik mengambang di udara.

Di luar dugaan, kami berdua terjebak duduk bersebelahan selama empat jam penuh di kereta yang sama. Aku diam-diam terus berharap dia akan turun di stasiun berikutnya, dan aku benar-benar kehilangan kesempatan untuk berdiri dan pergi ke toilet. Pada akhirnya, kami berdua menumpang kereta itu sampai pemberhentian terakhir di Shimonoseki bersama-sama, menjadikan perjalanan ini cukup berat dan sedikit tidak nyaman.
Secercah Harapan: Atap Jerami Kayabuki Tradisional
Meski situasi tempat duduk cukup canggung, pemandangan di luar jendela benar-benar memukau. Yang paling menarik perhatianku adalah rumah-rumah tradisional Jepang dengan atap "Kayabuki" (atap jerami).

Atap-atap ini mengandalkan keterampilan kriya kuno, dan karena begitu sulit serta mahal untuk dirawat, budaya ini perlahan mulai memudar. Namun, saat memandang dari jendela kereta, aku justru melihat sebuah rumah yang atap jeraminya sedang diperbaiki. Melihat proses perawatan itu berlangsung memberiku rasa lega yang mendalam serta harapan bahwa teknologi dan lingkungan untuk melestarikan budaya tradisional yang indah ini masih ada.
Atap Kayabuki
Atap Kayabuki adalah mahakarya arsitektur berkelanjutan tradisional Jepang, dibuat dari lapisan tebal rumput pampas kering dan alang-alang. Ditemukan di atap rumah petani dan kuil bersejarah, struktur jerami yang ikonik ini merepresentasikan jiwa Jepang kuno, menawarkan insulasi alami yang luar biasa serta estetika abadi yang menunjukkan harmoni yang mendalam dan bertahan lama antara lingkungan setempat dengan keterampilan kriya masyarakat pedesaan.
Reuni di Shimonoseki & Inspirasi Baru
Setelah akhirnya tiba di Shimonoseki, aku langsung menuju sebuah guest house bernama "Bridge".

Aku ke sana untuk menemui temanku Jack, sang pemilik, yang sudah kukenal sekitar dua tahun. Jack benar-benar legenda—dia benar-benar berjalan kaki dari Vietnam sampai ke Prancis sambil menarik gerobak tangan (rearcar) di belakangnya! Berbincang dengan seseorang yang telah melihat dunia dengan cara yang luar biasa seperti itu sungguh menginspirasi. Mendengarkan kisah-kisahnya menyalakan semangat dalam diriku, membuatku sadar bahwa aku sepenuhnya mampu menghadapi tantangan-tantangan baru sendiri. Itu menjadi penutup hari yang sangat memotivasi.
