← Cerita
Diary·Thailand·21 Agustus 2025·3 menit baca

🇹🇭 Menemukan Tempat Berkemah Liar yang Sempurna di Pedesaan Thailand

Meninggalkan Malam yang Gelisah

26 September. Dekat perbatasan Thailand. Malam sebelumnya sungguh melelahkan. Seorang pria yang berkemah di sebelahku berteriak keras sepanjang malam, suaranya terus terdengar hingga fajar. Dentingan logam yang kudengar cocok dengan pisau yang kulihat dia gunakan untuk memasak sebelumnya. Pada satu titik, aku hampir yakin dia melemparkan pisau itu ke dinding. Jantungku berdegup kencang karena takut, membayangkan pisau itu bisa saja melayang masuk ke tendaku kapan saja.

Seolah itu belum cukup, sekawanan anjing liar berkumpul di dekatnya, lolongan mereka berbaur dengan kegelapan malam. Paduan suara gonggongan dan teriakan pria itu menguras tenagaku. Namun, di tengah kekacauan ini, suara samar mengeong anak kucing sampai di telingaku. Tangisan kecil mereka menenangkanku, memberiku cukup ketenangan untuk akhirnya tertidur.

Ketika pagi tiba, aku menemukan anak-anak kucing itu. "Terima kasih," bisikku. "Kalian membantuku bertahan sepanjang malam." Saat aku mengemasi tenda, aku melihat seekor katak melompat di dekatnya. Penasaran, aku mencari informasi dan menemukan bahwa katak itu mungkin sejenis makanan khas lokal, "katak mewah" di Thailand. Aku tidak yakin apakah itu benar, tapi aku mengingatkan diri sendiri untuk berhati-hati di sekitar hewan yang belum kukenal.

Pertemuan Pagi dan Kebaikan Hati yang Tak Terduga

Setelah semua perlengkapanku terkemas, aku menuju warung makan kecil tempat aku berjanji pada perempuan setempat untuk kembali sarapan. Hari itu menyambutku dengan langit cerah—yang paling cerah sejak perjalanan ini dimulai.

Saat aku tiba, sudah ada pelanggan lain di sana. Dia berasal dari India, kini tinggal di Thailand dan menjalankan bisnis es krim. Tekadnya untuk belajar bahasa Thailand terlihat jelas; bahkan di sela-sela waktu singkat, dia rajin berlatih bahasa itu. Kami memesan kopi yang sama, racikan yang kaya dan penuh rasa—cocok untuk pagi hari. Kemudian dia menawariku sebagian es krimnya.

Rasanya membawaku kembali ke rumah. Berbeda dengan rasa-rasa asing yang pernah kucoba di negara lain, es krim ini terasa dekat dan menenangkan, mirip dengan es krim yang kunikmati sejak kecil di Jepang. Rasanya nostalgik, manis, dan menenteramkan.

Sarapan pun tiba: sepiring nasi Gapao pedas. Ketika ditanya apakah aku sanggup dengan kepedasannya, kupikir tidak akan terlalu parah—tapi ternyata lebih pedas dari yang kuduga. Meski begitu, aku berhasil menghabiskannya.

Perempuan itu kemudian menunjukkan sebutir telur misterius, sesuatu yang tampak seolah baru saja keluar dari film dinosaurus. Aku tertawa melihat keanehannya. Lalu, tanpa peringatan, dia menyajikan satu hidangan utama lagi untukku. Kupikir aku sudah tidak sanggup makan lebih banyak lagi, tapi kebaikan hatinya tidak memberiku pilihan lain—aku menghabiskan semuanya.

Ketika aku beranjak untuk ke kamar mandi, pria asal India itu diam-diam membayar makananku. Aku tercengang. Kebaikan seperti itu bukan sesuatu yang kuharapkan dari seseorang yang baru saja kutemui. Rasa syukur memenuhi hatiku saat aku berterima kasih padanya. Momen-momen seperti ini selalu terpatri di hati seorang pengelana.

Bersepeda Menyambut Matahari

Setelah berpamitan dengan perempuan itu dan warungnya, aku melaju dengan perut kenyang dan hati yang lebih ringan. Langit cerah mengangkat semangatku, dan pemberhentian pertamaku hari itu adalah sebuah kafe yang direkomendasikan oleh sesama pengelana.

Setelah 20 kilometer, aku tiba. Suasana kafe itu tenang, dan stafnya ramah serta hangat. Karena kebiasaan, aku memesan Americano—minuman yang sering kupesan dulu di Siem Reap. Tapi rasa lapar mengingatkanku untuk mampir ke restoran di sebelahnya, tempat aku menikmati makanan yang mengenyangkan hanya dengan 60 baht, sekitar 260 yen. Sederhana, terjangkau, dan lezat.

Kembali di jalan, aku tak bisa tidak memperhatikan betapa halus dan lebarnya jalan-jalan di Thailand dibandingkan Kamboja. Para pekerja jalan ada di mana-mana, tanpa lelah memperbaiki jalanan. Aku merasa sangat berterima kasih kepada mereka.

Menemukan Surga Tersembunyi

Akhirnya, aku tiba di tujuanku: salah satu tempat berkemah liar terbaik yang pernah kutemukan.

Tempat itu memiliki segalanya. Area yang tenang dan terpencil tempat aku bisa mendirikan tenda tanpa khawatir. Sebuah sungai tempat aku bisa mencuci pakaian dan membilas keringat dari tubuhku. Jenis tempat yang diimpikan setiap pengelana.

Saat senja tiba, pemandangan pun berubah. Matahari terbenam mewarnai langit, lalu kunang-kunang muncul, menari dalam kegelapan malam. Aku duduk di dekat tendaku, menyaksikan cahaya mereka berkelip dalam gelap. Rasanya magis—sesuatu yang tak pernah kubayangkan akan kualami saat memulai perjalanan ini.

Setelah semalam yang dipenuhi rasa takut dan kelelahan, aku menemukan kedamaian dan keindahan tanpa sengaja. Rasanya seperti sebuah hadiah, pengingat bahwa jalan selalu menyeimbangkan perjuangan dengan keajaiban.

Memories of the Road — Thailand

Dari perjalanan ini

Memories of the Road — Thailand

Bagikan