Pagi di Bandara Don Mueang
9 Oktober, salam dari Bandara Don Mueang di Bangkok. Kemarin, aku pergi ke sana untuk menjemput seseorang yang telah menghubungiku dari luar negeri dan berkata, "Aku ingin bepergian bersamamu." Awalnya aku hampir tak percaya, tapi ternyata dia benar-benar terbang jauh-jauh ke Bangkok untuk bergabung dalam perjalanan ini.
Namun pagi ini, aku terbangun dengan rasa tidak nyaman yang menyebar ke seluruh tubuh. Aku bisa merasakan efek vaksin dari hari sebelumnya mulai bekerja. Lenganku terasa berat, dan energiku terkuras bahkan sebelum hari itu dimulai. Sebuah hari yang berat akan segera dimulai. Namun, tak ada waktu untuk ragu. Aku meninggalkan hotel dan menyiapkan diri untuk apa pun yang akan terjadi.
Awal Perjalanan Berdua

Maka, perjalanan berdua pun dimulai. Sebenarnya, ini belum sepenuhnya menjadi perjalanan bersepeda, karena kami masih perlu membeli sepeda untuk teman perjalanan baruku. Tapi secara semangat, jalan telah terbuka ke arah baru. Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi bepergian sendirian. Rasa kemungkinan baru itu memberiku kekuatan, meski tubuhku memberontak.
Rencana pertama hari itu sederhana: kembali ke guesthouse, lalu keluar untuk membeli sepeda. Tapi sebelum itu semua, kami butuh makan.
Aku memesan seporsi nasi dengan udang seharga 60 baht (sekitar 267 yen). Mungkin karena dekat bandara, harganya terasa sedikit lebih mahal dari biasanya. Meski begitu, porsinya besar dan mengenyangkan, rasanya pun lebih dari sepadan. Kesenangan kecil untuk mengawali hari yang berat.
Dalam Perjalanan ke Kota

Setelah sarapan, kami naik bus menuju pusat kota Bangkok. Saat ini aku sudah terbiasa naik bus-bus semacam ini. Masing-masing punya keunikannya sendiri—kursi berbeda, rute berbeda, dan seringkali, penemuan-penemuan kecil yang berbeda pula.
Penemuan hari ini datang dalam bentuk kaus. Di dalam bus, aku memperhatikan seseorang mengenakan kaus "Nekozilla"—desain jenaka terinspirasi dari Godzilla tapi berwujud kucing. Belakangan aku tahu itu adalah tren populer di Thailand. Saat itu aku menyesal tidak bertanya di mana bisa membelinya. Hal-hal kecil seperti itulah yang membuat perjalanan terasa begitu hidup dan tak terduga.
Ketika bus tiba di kota, kami berpindah ke kereta. Ini pertama kalinya aku merasakan kereta di Thailand. Di loket tiket, kami membeli kartu, menempelkannya di gerbang, lalu masuk. Stasiunnya ternyata luas dan terbuka. Tak lama kemudian, kami naik kereta menuju Stasiun Ekkamai.
Pergulatan dengan Kondisi Tubuh

Saat kami tiba, kondisiku sudah semakin memburuk. Kelelahan akibat vaksin membuatku lemas, dan setiap langkah terasa makin berat. Tubuhku menjerit minta istirahat.
Kami singgah di sebuah kafe bernama Mixue, jaringan yang berasal dari Tiongkok, terkenal dengan es krim dan es tehnya. Aku memesan teh kiwi, yang ternyata menyegarkan melebihi ekspektasi. Untuk harganya, rasanya lezat, dengan potongan buah kecil di dasar gelas yang memberi tekstur mirip tapioka.
Meski begitu, tak ada minuman yang bisa menghapus kelelahan itu. Aku mengaku kalah dan memutuskan untuk segera kembali ke guesthouse secepat mungkin.
Istirahat di Guesthouse
Ketika kami akhirnya tiba, aku terkesan dengan betapa bersih dan nyamannya guesthouse itu. Namun aku nyaris tak sempat memperhatikannya sebelum roboh ke ranjang. Tidur pun datang seketika.
Momen itu adalah yang terberat sepanjang hari. Jika ada satu pelajaran yang kudapat, inilah: setelah vaksinasi, tempat terbaik untuk berada adalah di rumah, beristirahat dengan tenang. Memaksakan diri bergerak terlalu cepat hanya akan memperburuk keadaan.
Aku tidur sekitar empat jam, dan ketika akhirnya terbangun, rasa lapar kembali datang. Aku melangkah keluar ke malam hari. Hujan ringan telah turun, membuat jalanan berkilau. Pantulan lampu jalan berkelap-kelip di atas trotoar basah, menciptakan suasana yang anehnya menenangkan.
Makan Malam di Malam yang Hujan

Mengikuti aroma makanan, aku tiba di sebuah warung kaki lima yang menjual sup mi. Dengan 50 baht (sekitar 223 yen), kau bisa memilih jenis mi yang kau inginkan. Rasanya hampir seperti menciptakan hidanganmu sendiri.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, semangkuk sup pun disajikan. Kuahnya lezat—hangat dan kaya rasa, sebuah kenyamanan setelah hari yang begitu berat. Bahkan ada taburan renyah berwarna kuning seperti camilan, meski bagiku itu tidak terlalu menambah rasa. Tetap saja, aku bersyukur atas hidangan itu.
