← Cerita
Diary·South Korea·20 Mei 2026·2 menit baca

Penerbangan Mendadak ke Seoul: Ketika Mantan Bilang, Ayo Berkunjung

Kerja Pagi dan Sedikit Kepanikan

Pemandangan sawah hijau di bawah langit berawan, dengan menara komunikasi di kejauhan.

15 Mei. Aku bangun pagi-pagi sekali jam 5:30 dan, secara spontan, keluar ke halaman untuk mencabuti rumput liar sebentar. Hari ini adalah harinya—aku akhirnya berangkat ke Korea Selatan. Karena perjalananku dijadwalkan dimulai sekitar jam 10:00 pagi, aku ingin tetap produktif dan menyelesaikan tugas-tugas kecil apa pun yang bisa kutemukan di rumah sebelum berangkat.

Waktu terus berjalan, aku berjalan kaki ke Stasiun Takasaki. Tapi begitu sampai di sana, bus yang kutunggu tidak terlihat sama sekali. Aku sudah menghabiskan sekitar 5.000 yen (kurang lebih $35 USD) hanya untuk sampai ke titik ini, dan kepanikan pun mulai menjalar. Apakah aku akan ketinggalan pesawat? Pada akhirnya, bus itu datang terlambat hanya tiga menit. Kalau dipikir-pikir lagi, kepanikanku yang luar biasa hanya karena keterlambatan tiga menit itu hampir lucu. Saat itu juga aku benar-benar menyadari: aku memang orang Jepang tulen. Ketika ketepatan waktu sudah tertanam dalam budaya keseharianmu, keterlambatan sekecil apa pun membuatmu membayangkan skenario terburuk.

Langit Berwarna-warni dan Mendarat di Seoul

Aku naik bus dan langsung menuju Bandara Narita. Setelah mengisi perut dengan katsu curry (kari dengan potongan daging babi goreng tepung) klasik ala Jepang, aku dengan lancar melewati proses check-in dan naik ke pesawat.

Aku sangat beruntung dengan kursiku—sangat luas dengan banyak ruang kaki untuk meluruskan badan.

Hidangan tradisional Korea berupa sup pedas dengan makanan laut dan tahu, disajikan dalam mangkuk batu, disandingkan dengan daging sapi berbumbu dan kimchi.

Saat pesawat lepas landas, aku menatap keluar jendela dan menyaksikan langit menampilkan pertunjukannya sendiri. Cahaya di luar berganti-ganti melewati corak biru, merah, dan oranye yang cerah. Rasanya begitu dramatis dan hidup, hampir seperti alam semesta sedang mengadakan parade penyambutan penuh warna untuk petualanganku.

Akhirnya, untuk pertama kalinya dalam enam tahun, aku mendarat di Korea Selatan. Hal pertama yang wajib kulakukan? Menyantap semangkuk Soondubu (sup tahu lembut) yang masih panas mengepul. Rasanya luar biasa enak, seperti bukan dari dunia ini. Aku menutup hari yang begitu panjang ini dengan bersantai di sebuah kafe nyaman tepat di sebelah restoran tersebut.

Alasan Sesungguhnya di Balik Penerbangan Ini

Jadi, kenapa tiba-tiba pergi ke Korea? Semuanya berawal dari pesan santai dari mantan pacarku: "Kalau sempat, main ke sini ya." Aku bilang akan datang, dan kalau aku sudah bilang akan melakukan sesuatu, aku pasti melakukannya. Aku benar-benar benci berbohong, apalagi pada diriku sendiri. Mungkin terdengar seperti alasan gila untuk naik pesawat, tapi menepati janji adalah harga mati bagiku. Aku tidak bisa berhenti membayangkan pengalaman dan pemandangan liar apa saja yang menantiku dalam beberapa hari ke depan. Sejujurnya aku sangat tidak sabar untuk mengetahuinya.

Bagikan