← Cerita
Diary·Philippines·28 Mei 2025·3 menit baca

Merangkul Kekacauan: Jajanan Kaki Lima, Kopi Buruk, dan Reuni Tak Terduga di Cebu

Fokus Pagi dan Jajanan Kaki Lima yang Menggoda

Hari ini tanggal 28 Mei. Aku begadang terlalu larut semalam, dan bangun dengan rasa lelah berat yang masih menempel di tubuh. Meski begitu, aku berhasil memaksa diri bangun dari tempat tidur sekitar pukul 8 pagi dan langsung tenggelam dalam pekerjaan hingga pukul 11 siang. Biasanya, aku tipe orang yang kesulitan berkonsentrasi kalau ada orang di sekitar, tapi lingkungan ini berbeda. Ada semacam keajaiban dalam sebuah ruang di mana semua orang fokus, dan aku senang bisa ikut terbawa gelombang produktivitas yang sama.

Sekitar tengah hari, aku pergi bersama Shuzo untuk makan siang di warung kaki lima setempat. Ini kali kedua aku makan di sana, dan makanannya tetap menggugah selera seperti sebelumnya. Kenaikan peso Filipina memang terasa cukup menyengat, sih. Pola makan lokal sangat condong ke daging dan minyak, membuatku sangat sadar betapa kurangnya asupan sayuran dalam dietku. Setelahnya, aku berperan sebagai pewawancara untuk membantu Shuzo membuat video untuk kanal YouTube-nya.

Jajanan kaki lima yang menggoda di sebuah warung lokal di Cebu

Terjun ke dalam Kekacauan Colon Street

Menjelang sore, aku menjelajah ke Colon Street, sebuah kawasan yang terletak dekat pelabuhan. Daerah ini memang tidak begitu dikenal karena keamanannya yang prima, tapi dengan keberadaan universitas-universitas di sekitarnya, kawasan ini berdenyut dengan energi yang kacau dan mentah. Sudah lama sejak terakhir kali aku ke sana, dan kepadatan orang dan barang yang terus bergerak tanpa henti terasa luar biasa membanjiri indra.

Misiku hari itu: membeli bendera Filipina. Setelah bertanya ke sana kemari, aku akhirnya menemukannya di toko perlengkapan sekolah, dari semua tempat yang ada.

Bendera Filipina yang ditemukan di toko perlengkapan sekolah di Colon Street

Kopi Buruk Seharga $1.30 dan Plot Twist yang Tak Terduga

Butuh istirahat sejenak, aku singgah di sebuah kedai kopi yang sangat direkomendasikan dan memesan es Americano seharga sekitar $1.30 USD. Sekali seruput, aku benar-benar tertawa terbahak-bahak. Rasanya buruk luar biasa. Sudah lama aku tidak minum kopi seburuk itu, tapi entah bagaimana hal itu justru menambah pesona hari itu.

Saat aku masih terkejut karena kopi itu, seorang wanita tiba-tiba memanggilku begitu saja. Plot twist: dia adalah istri Filipina dari orang yang justru akan kutemui nanti, sedang jalan-jalan bersama anak mereka. Kebetulan macam apa itu?

Es Americano di kedai kopi yang direkomendasikan di Cebu — rasanya mengejutkan buruknya

Reuni Setelah Dua Tahun dan Keajaiban Stiker

Saat senja tiba, aku bertemu kembali dengan seorang teman yang tidak kutemui selama dua tahun. Kami menghabiskan berjam-jam mengobrol tentang segalanya—kehidupannya di Filipina, rencananya kembali ke Jepang, dan daya tarik kota ini yang tak terbantahkan. Aku membagikan beberapa stiker yang kubawa kepada anak-anaknya, dan wajah mereka langsung berbinar. Jangan pernah meremehkan kekuatan stiker; itu adalah pemecah kebekuan paling ampuh untuk anak-anak.

Mengobrol dengan warga lokal hari ini membuatku menyadari betapa besar nilai hubungan personal di sini. Ketika seseorang berkata, "Dia teman si anu," itu langsung meruntuhkan sekat dan mendekatkan jarak. Hal itu membuatku semakin ingin memahami lebih dalam kebudayaan negeri yang kaya ini.

Reuni dengan seorang teman setelah dua tahun di Cebu

Bersiap untuk Petualangan Baru

Terinspirasi oleh percakapan kami, aku membuat keputusan spontan: dua hari lagi, aku akan pergi ke sebuah tempat yang digambarkan kepadaku sebagai hutan belantara. Awalnya aku seharusnya berangkat besok, tapi aku memperpanjang masa tinggalku satu hari lagi hanya untuk bersiap menghadapi petualangan baru ini. Perjalanan baru sudah menanti, dan aku tidak bisa lebih siap dari ini.

Bagikan