
Visi
Ke mana jalan ini
menuju.
Bukan sekadar perjalanan — sebuah kehidupan yang dibangun di atas makna, pergerakan, dan karya yang bertahan lama.
Motto
"Jadilah pelancong yang selalu diminta untuk kembali lagi."
Pada intinya, bepergian adalah tindakan yang sangat pribadi — pergi ke mana pun yang Anda mau, kapan pun Anda mau. Namun kemampuan untuk bepergian sama sekali tidak akan ada tanpa negara-negara yang menyambut kita, dan orang-orang sepanjang sejarah yang telah membangun jalan di bawah kaki kita. Itulah mengapa saya membawa rasa syukur ke mana pun saya pergi. Bukan sebagai turis yang sekadar lewat, melainkan sebagai seseorang yang ingin meninggalkan sesuatu yang positif — pada tempat-tempat itu, dan pada orang-orangnya.
Visi 1
Seratus negara, seratus dunia yang berbeda
Mengunjungi lebih dari seratus negara sebenarnya tidak pernah soal angka. Ini bukan papan skor yang sedang saya coba penuhi.
Ini soal apa yang benar-benar berubah begitu Anda melewati sebuah perbatasan. Bahasanya berubah. Makanannya berubah. Sejarah yang mendasari kehidupan sehari-hari pun berubah. Tidak ada dua negara yang membawa budaya atau masa lalu yang sama, dan itulah yang terus menarik saya maju — perasaan bahwa dunia ini jauh lebih luas daripada yang bisa ditunjukkan oleh satu tempat mana pun, dan saya ingin terus berkeliling menjelajahi sebanyak mungkin bagiannya.

Inilah gerak ke luar yang mendasari cara saya ingin menjalani hidup: selalu mengarah ke tempat berikutnya yang belum saya pahami, memperlakukan jalan itu sendiri sebagai bagian dari karya — bukan sekadar jarak antara satu cerita dan cerita berikutnya.
Visi 2
Seratus suku bangsa, bukan sekadar seratus negara
Visi pertama sengaja dibuat luas — sebuah pergeseran perspektif yang muncul dari berpindah melalui sebanyak mungkin tempat yang berbeda. Namun keluasan itu punya batasnya. Yang sebenarnya paling saya sukai adalah melangkah ke dalam sesuatu yang belum saya ketahui, menapakkan kaki ke dunia yang belum pernah saya sentuh. Bahkan di dalam satu negara saja, satu kelompok etnis atau suku bisa memegang cara pandang yang sama sekali berbeda dari yang ada di sebelahnya.
Jadi selain menjelajah secara luas, saya juga ingin menyelam lebih dalam: menghabiskan waktu yang sungguh-sungguh bersama kelompok etnis dan suku lokal, bukan sekadar lewat, melainkan tinggal cukup lama hingga benar-benar diterima. Saya bermaksud secara harfiah — makan apa yang mereka makan, menari apa yang mereka tarikan, hidup selama berapa pun harinya di dalam irama yang bukan milik saya, cukup lama hingga saya menyadari hal-hal yang hanya muncul begitu Anda berhenti menjadi tamu.

Apa pun yang saya sadari di sana, apa pun yang diam-diam berubah dalam diri saya, ingin saya bentuk menjadi sesuatu yang bertahan lama — sebuah majalah yang sepenuhnya dibangun di seputar budaya etnis: gaya hidupnya, makanannya, adat istiadatnya, kesadaran-kesadaran kecil yang hanya muncul ke permukaan setelah Anda benar-benar hidup di dalamnya untuk sementara waktu.
Visi 3
Buku-buku yang lahir setelah perjalanan
Selain semua ini, saya ingin terus membuat buku.

Buku pertama saya, The Fate of Knot, ditulis sebelum semua perjalanan ini dimulai — sebuah kisah dalam bentuk novel tentang cara berpikir yang saya bawa sebelum saya benar-benar berangkat, lanskap batin yang pada akhirnya menarik saya keluar ke jalan sejak awal.
Apa yang akan datang berikutnya berbeda. Saya ingin buku-buku selanjutnya lahir dari apa yang benar-benar diberikan oleh perjalanan itu sendiri kepada saya, bukan dari apa yang saya yakini sebelum saya berangkat. Saya belum tahu persis bentuknya akan seperti apa. Saya hanya tahu saya ingin terus membuatnya.
Visi 4
Meninggalkan sesuatu, bukan sekadar jejak kaki
Tidak satu pun dari semua ini — negara-negara, suku-suku bangsa, buku-buku — terjadi tanpa sesuatu yang lebih dulu diberikan kepada saya. Setiap negara yang bisa saya nikmati adalah negara yang masyarakatnya memilih untuk menjaga budaya mereka sendiri jauh sebelum saya tiba. Itu bukan sesuatu yang saya anggap remeh.
Jadi bagian keempat dari semua ini adalah memberi kembali, dalam bentuk apa pun yang nantinya terwujud. Saya belum tahu persis bentuknya seperti apa — hanya saja saya ingin itu nyata: sesuatu yang benar-benar memberi nilai tambah bagi orang-orang yang telah menerima saya, bukan sekadar ucapan terima kasih saat saya pergi.
Pada akhirnya, itulah sosok musafir yang sedang saya coba menjadi: bukan turis yang sekadar lewat, melainkan seseorang yang meninggalkan cukup banyak hingga sebuah tempat benar-benar ingin dia kembali. Musafir, petualang, dan di balik keduanya, hanya satu orang yang sedang mencoba menjalani hidup dengan cara itu.